MALANG-KEMPALAN: Dualisme telah terjadi di kalangan pendukung Arema FC. Mereka terpecah menjadi dua kubu, yaitu Arek Malang dan Aremania.
Dualisme tersebut muncul karena adanya perbedaan sikap di antara para penggemar kepada Arema FC setelah terjadinya Tragedi di Stadion Kanjuruhan.
Massa yang mengatasnamakan diri sebagai Arek Malang menuntut tanggung jawab dari pihak Arema FC atas Tragedi Kanjuruhan. Mereka juga merasa tidak puas terhadap penanganan kasus Tragedi Kanjuruhan yang dinilai belum diusut hingga tuntas oleh Arema FC.
Untuk menuntut pertanggungjawaban Arema FC, massa Arek Malang kemudian melakukan aksi long march dari Taman Makam Pahlawan Jalan Veteran Kota Malang menuju ke kantor Arema FC pada Minggu (29/1) lalu. Aksi tersebut diikuti oleh ratusan orang massa.
Setibanya di kantor Arema FC, Massa Arek Malang kemudian membentangkan sejumlah poster yang bertuliskan “Aremania berjuang sendiri, klubnya tidak peduli.”. Mereka juga memasang foto wajah Iwan Budianto, yang merupakan pemilik saham terbesar Arema FC.
Massa kemudian menempelkan poster-poster tersebut di tembok-tembok kantor Arema. Polisi pun berusaha menghentikan aksi mereka, namun massa Arek Malang menolak dan demo pun berakhir dengan bentrokan.
Selama bentrok dengan polisi, massa juga merusak sejumlah fasilitas di kantor dan official store Arema FC. Mereka bahkan sempat melepas serta membakar logo Arema di tengah jalan.
Tak lama setelah demo yang dilakukan Arek Malang, pihak yang mengaku suporter Tim Singo Edan, Aremania, melakukan dialog dengan manajemen klub.
Dialog antara pihak Aremania dan manajemen Arema pun akhirnya terjadi pada hari Selasa (31/1), di halaman kantor klub yang disebut Kandang Singa.
“Manajemen selalu terbuka untuk berdialog, selalu membuka diri, bahkan kami juga menerima keluh kesah Aremania. Bukan dengan cara perusakan rumah kami. ucap Tatang, Komisaris PT Arema.
Dialog tersebut dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap Arema FC yang dikabarkan ingin membubarkan diri karena situasi klun yang sedang dalam kondisi tak bagus.
Namun, ratusan massa Aremania yang hadir dalam dialog bersama itu memohon agar manajemen mengurungkan niatnya untuk membubarkan Tim Singo Edan.
“Jangan sampai dibubarkan. Saya dan anak-anak siap turun ke jalan dengan baju biru keliling Kota Malang. Untuk menunjukkan eksistensi suporter Arema. Saya ke sana ke mari juga menggunakan lambang Arema, Arema itu harga diri.” ujar salah satu Aremania, Rio.
Setelah mengadakan dialog dengan pihak klub, massa Aremania juga memasang kembali logo Arema FC yang sebelumnya dibakar oleh massa aksi Arek Malang.
Perwakilan Aremania, Yuli Sumpil sangat menyayangkan kerusakan yang terjadi di kantor dan official store Arema dan menegaskan bahwa logo Arema harus diperjuangkan eksistensinya dengan sepenuh jiwa dan raga.
“Ribuan Aremania mengorbankan jiwa raganya untuk lambang yang sangat sakral itu, ke mana-mana kita diserang demi nama Arema. Logo kita dirusak oleh lawan kita saja kita tidak senang, ini malah teman kita sendiri yang mengaku Aremania malah merusak sendiri, ya Allah.” ujar Yuli.
(*) Edwin Fatahuddin

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi