Piala Dunia Qatar kali ini adalah panggung perang peradaban. Samuel Huntington mengungkapkan tesisnya mengenai Perang Peradaban dalam buku ‘’The Clash of Civilization; and the Remaking of World Order’’ (1993). Penyulut perang di masa depan, kata Huntington, adalah benturan peradaban, terutama antara Barat yang Nasrani melawan Timur yang Islam. Peradaban lain yang berpotensi saling berbenturan adalah budaya Konfusianisme di Asia dan Kristen Ortodoks di Eropa Timur dan Rusia.
Qatar adalah representasi peradaban Islam. Negeri kecil itu mencatat rekor sebagai negara Timur Tengah pertama yang menjadi penyelenggara piala dunia. Dan yang tak kalah penting, Qatar adalah negara Islam pertama yang menjadi tuan rumah Piala Dunia.
Turnamen di Qatar ini tercatat sebagai perhelatan yang paling kontroversial, terutama karena isu politik mendominasi wacana. Sejak awal ada serangan terstruktur terhadap Qatar sebagai tuan rumah. Media-media Barat lebih banyak memberitakan isu-isu hak asasi manusia dan suap ketimbang memberitakan persiapan teknis Qatar sebagai tuan rumah.
BACA JUGA: Walid Balboa
Isu lain yang menonjol adalah LGBTQ (lesbian, gay, bisexual, transgender, queer). Media Barat menyoroti Qatar yang dianggap represif terhadap kelompok gay dan lesbian. Sebagai negara Islam Qatar tegas mengharamkan LGBTQ dan tidak menoleransi kampanye untuk medukungnya. Qatar melarang pemakaian ban kapten pelangi yang menunjukkan dukungan terhadap LGBTQ.
Timnas Jerman menjadi sorotan karena aksi tutup mulut menjelang pertandingan melawan Jepang. Jerman kalah 1-2, dan publik melampiaskan kekesalan dengan menuduh Jerman lebih sibuk bermain politik ketimbang bermain bola. Jerman menjadi tim paling vokal dalam mendukung hak-hak LGBTQ.
Jerman kemudian secara tragis gagal lolos ke babak 16 besar, setelah Jepang memastikan kemenangan sensasional atas Spanyol dengan skor 2-1. Kemenangan Jepang atas Jerman dan Spanyol adalah kemenangan peradaban Asia Timur vs peradaban Barat.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi