Rabu, 3 Juni 2026, pukul : 11:42 WIB
Surabaya
--°C

Sastra Jawa di Jawa Timur Masih Ada

KEMPALAN: BEBERAPA waktu lalu, Paguyuban Pengarang Sastra Surabaya (PPSJS) bersama Forum Sastra Bersama Surabaya (FSBS), menerbitkan kumpulan guritan yang dilengkapi terjemahan-nya bahasa Indonesia. Tajuk yang diangkat dalam kumpulan guritan adalah Gurit Bandha Donya (September, 2014).

Sebelum menerbitkan itu, di tahun yang sama, PPSJS juga menerbitkan kumpulan guritan Mlesat Bareng Ukara (April, 2014) dengan banyak melibatkan penulis di luar PPSJS, termasuk penulis dari Pamarsudi Sastra Jawi Bojononegoro (PSJB), Kostela Lamongan, dan Sanggar Triwida, Tulungagung. Waktu itu tidak hanya dibedah dan dibacakan di Surabaya, tapi juga di Taman Budaya Jawa Tengah, Solo.

Terbitan buku yang agak unik guna merayakan ulang tahun PPSJS yang ke-37 pada tahun 2014 berjudul Gurit Bandha Donya itu, dalam kata pengantarnya, Ketua PPSJS, Suharmono Kasijun mengatakan, “Usaha menerjemahkan geguritan yang dipelopori oleh Aming Aminoedhin memang satu ide yang kreatif, namun tidak mudah dilaksanakan, sebab bahasa Indonesia mempunyai roh Melayu yang berbeda dengan roh Jawa.”

BACA JUGA  Sidoarjo Berburu Talenta E-Sports: Cetak Generasi Emas Menuju Panggung Regional dan Nasional

BACA JUGA: Sastra Jawa di Jawa Timur

Terlepas dari itu, yang pasti PPSJS telah mencoba buat buku gurit yang lengkap dengan ada terjemahan bahasa Indonesianya. Satu langkah maju, yang mana banyak anak-anak sekarang kurang tahu persis kosa kata bahasa Jawa, jadi agak mengerti artinya. Setidaknya menjadi agak mudah menangkap makna arti guritan yang termuat.

Para penyair yang karyanya dimuat dalam buku ini adalah Aming Aminoedhin, Widodo Basuki, R.Djoko Parakosa, Deny Tri Aryanti, Trinil, Suharmono K., R.Giryadi, Razuno Kaori, dan Suparto Brata. Setiap puisi ditulis secara berurutan dalam bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Pada sampul depan tertulis judul dalam bahasa Jawa dengan ukuran lebih besar, sedangkan judul Puisi Kekayaan Dunia tertulis di bawahnya dengan ukuran lebih kecil. Posisi dan ukuran huruf pada judul buku tersebut mengisyaratkan bahwa puisi yang berbahasa Jawa (guritan) lebih ditonjolkan.”

BACA JUGA  Kilau Renang Artistik: Subandi Anugerahkan Penghargaan Tertinggi untuk Aulia dan Gendhis di Hari Lahir Pancasila
forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.