“Lalu, apa yang saudara lakukan?”
“Saya teriak, minta tolong sama om-nya: Om… tolong om… Terus, ibu mulai refleks mendengar saya teriak teriak. Ibu berkata: Jangan om Yosua… Yaudah, saya manggil Om Kuat. Baru-lah, Om Kuat naik ke atas.”
Hakim (heran): “Saya belum nanya Yosua, lho… Kok, saudara langsung sebut Yosua?”
Susi: “Kan, saya teriak. Om Kuat naik ke atas, nemui saya sama Ibu. Terus, Om Kuat nanya ke saya: Bi, kenapa Ibu? Saya nggak tahu om. Habis itu, Om Yosua mau naik ke lantai dua, tapi dihalau Om Kuat.”
BACA JUGA: Mengapa Apartemen di Jakarta Jadi Ajang Pembunuhan?
Susi lagi: “Om Kuat trus tanya ke Om Yosua: Kamu apain ibu? Om Yosua jawab: Saya nggak ngapa-ngapain ibu. Trus, Om Kuat melarang Om Yosua naik. Habis itu saya bilang ke Om Kuat: Udah om… jangan ribut. Tolongin ibu dulu. Terus, saya sama-sama Om Kuat bantuin ibu memapah ke dalam kamar ibu.”
Hakim garuk-garuk jidat. Entah mikir, entah bingung. Tapi wajahnya burem.
Hakim: “Masuk akal nggak sih, cerita suadara ini? Saya tanya, siapa saja yang berada di lantai dua?”
Susi: “Saya dan Om Kuat.”
Hakim: “Kok, saudara bisa memastikan, bahwa Kuat menghalangi Yosua? Tahu dari mana?”

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi