SURABAYA-KEMPALAN: Terkait temuan botol bekas minuman beralkohol (mihol) atau minuman keras (miras) di gedung DPRD Surabaya, Wakil Ketua DPRD Surabaya AH Thony minta diusut tuntas.
“Sejak awal saya sudah menyampaikan agar bagian keamanan dan terkait serius untuk mencari sampai ketemu, siapa yang menaruh botol bekas mihol di situ dan mengungkap dengan jelas apa motif dan alasanya,” kata AH Thony, Senin (17/10).
Menurut AH Thony, pihaknya ingin mengetatahui, karena khawatir gedung dewan yang terhormat, tempat para anggota dewan yang berwenang melakukan fungsi kontrol, fungsi legislasi, dan fungsi menyetujui atau mencoret anggaran APBD ini sedang disalahqgunakan oleh pihak tertentu.
Dia mengaku khawatir, tanpa diketahui diam-diam gedung dewan telah disalahgunakan. Kemungkinanya bisa oleh pemulung untuk penampungan botol bekas mihol yang ditemukan di luar gedung lalu di kumpulkan ke dalam gedung.
Atau dipakai melakukan kegiatan ritual oleh aliran tertentu, yang tradisinya mensyaratkan ada adegan lempar botol ke gedung dewan. Hanya saja, kalau dilempar kok tertata rapi.
Atau disalah gunakan oleh pihak tertentu (bisa orang dalam bisa orang luar) untuk tempat hiburan sambil menikmati mihol, lalu setelah pestanya selesai botolnya di taruh ditempat itu.
Kemungkinan lain, lanjut Thony, ada motif politik jahat dari kekuatan tertentu untuk menjatuhkan marwah lembaga dan atau anggota dewan yang duduk sekarang.
“Jadi, jita sangat serius ingiin mengungkap motif itu dengan jelas dan gamblang. Memang ini soal remeh-temeh, sekadar botol kosong. Memberikan kesan urusan kecil yang dibesar-besarkan dewan, seolah-olah tidak ada pekerjaan lain yg lebih penting. Tapi bagi kami keberadaanya sangat mencederai marwah lembaga perwakilan takyat,” tegas politisi asal Partai Gerindra ini.
Terhadap temuan bekas botol mihol tersebut, menurut AH Thony, sudah ia bicarakan bersama pimpinan dewan yang lain agar dilacak sampai ketemu.
Botol kosong bekas mihol yang ada di gedung dewan itu, lanjut dia, bisa saja botolnya dari luar kosong lantas dibawa ke gedung dewan dalam kondisi kosong seperti alibi-alibi yang sekarang berkembang.
‘Kalau botol bekas mihol dalam kondisi kosong dibawa ke gedung dewan, terus kita-kira motifnya apa di balik itu? Dan lagi untuk apa? Apa mau dipakai praktikum ngoplos?” tanya AH Thony, geram.
Ada dugaan, mereka sengaja melakukan semua itu agar ada kesan di publik bahwa gedung dewan seolah-olah telah disalahgunakan fungsinya jadi ajang pesta mihol lantaran disuruh oleh kekuatan politik tertentu yang ingin merusak citra lembaga dan seluruh pihak yang ada di dalam gedung dewan.
“Gedung dewan kan bukan laboratorium penelitian biologi atau kimia yang membutuhkan botol-botol ukur, apalagi botol bekas mihol,” ujar Thony.
Saat pertama kali menemukan botol mihol kosong itu di belakang kantornya, Jumat (7/10), AH Thony mendapati labelnya masih baru. Sampai sekarang, pihaknya masih menunggu laporan dari bagian rumah tangga dan penjaga keamanan serta ketertiban untuk menemukan siapa pelakunya.
Padahal, kata AH Thony, di dewan itu ada petugas keamanan dan pamdal yang jumlahnya sangat banyak dan ditempatkan hampir di setiap tempat. Selain itu, gedung dewan juga terpasang kamera keamanan di setiap penjuru, serta layar monitor yang tiap hari dipenthelengi petugas pemantau. Sehingga, kalau sampai tidak ketemu siapa pelakunya, dia menilai sangat kebangeten.
“Kalau masalah ini saja tidak bisa di ketemukan, ini sama halnya gedung dewan tanpa ada yang menjaga, dan fungsi tata kerja rumah tangga dewan tidak jalan. Untuk itu, saya terpaksa minta atensi wali kota agar menugaskan BKD turun tangan untuk mengevaluasi seluruh petugas keamanan yang ada di dewan. Yang gak niat kerja supaya diganti yang lebih profesional dan bertanggung jawab,” pintanya
“Dikiro gedung dewan iki warung miras opo piye? Podo ora ngerti aturan kabeh,” pungkasnya. (Dwi Arifin)
Editor: DAD

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi