Indonesia dari negara otoriter di Orde Baru, mantul ke reformasi. Bandul berayun ke arah sebaliknya. Mantul. Rakyat, dari sangat takut jadi sangat berani. Maka, Presiden RI (kecuali BJ Habibie, bagian Orde Baru) mulai KH Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, SBY, Jokowi. Pembusukan individu.
Kalau kultus individu hasil rekayasa geng pemimpin, pembusukan individu juga rekayasa, oleh geng lawannya pemimpin.
Dalam film serial semi-dokumenter “Pulling the Thread” (tayang di World Channel, sejak 1 April 2020 sampai sekarang), pembusukan individu pemimpin disebut “Teori Konspirasi”. Istilah yang paling disuka warganet kita.
BACA JUGA: KDRT Suami ke Isteri di Teori Kriminologi
Pemegang gelar Master Jurnalistik dari Harvard Extension School, Amerika, Meghan Smith, mengurai “Pulling the Thread” pembusukan individu pemimpin dalam Teori Konspirasi, ada lima:
1) Kalah dalam pemilihan (Pemilu, Pilpres, Pilkada) adalah fondasi terbaik bagi munculnya teori konspirasi liar.
Film Pulling The Thread menampilkan studi yang membuka mata penonton, menggambarkan bahwa: Partai politik pemenang pemilihan, menyimpan banyak teori konspirasi. Tapi partai yang kalah, punya teori konspirasi yang lebih banyak lagi.
2) Teori konspirasi berkembang dalam ketidakstabilan politik. Atau ketika bangsa menghadapi tragedi kolektif.
“Ketika rakyat kelas bawah merasa dikhianati oleh kelas atas dan proses politik, maka masyarakat bawah menganggap, ada teori konspirasi yang diciptakan kalangan atas,” kata Prudy Gourguechon, mantan presiden American Psychoanalytic Association, yang tampil di film tersebut.
3) Otak kita suka mencari pola, untuk memproses trauma historis, bahkan untuk sesuatu yang tidak ada.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi