Sabtu, 6 Juni 2026, pukul : 19:55 WIB
Surabaya
--°C

JohnAnglo Bro

Budi Utomo

Bai Lan di Tiongkok ini mirip dengan fenomena slackers di USA 1990 an. Ketatnya kompetisi mendapatkan pekerjaan dan ketidakpastian ekonomi masa depan melahirkan generasi Bai Lan / Slacker. Mereka boro-boro mikir kawin atau punya anak. Lha untuk diri sendiri saja sudah pusing tujuh keliling. Ini jelas masalah sosial besar bagi pemerintah Tiongkok karena populasi penduduk makin menyusut dengan tingkat yang jauh lebih drastis. Kasus ini juga melanda Jepang, Korsel, Taiwan. Jumlah anak yang dilahirkan per wanita makin merosot. Malas kawin. Kalau Indonesia? Tenang aja. Walau mungkin sulit cari kerja tetap tapi kawin dan punya anak jalan terus. Ada yang bilang orang Indonesia tak pernah putus asa soal masa depan yang lebih baik dari saat ini. Wkwkwk

BACA JUGA  Ninja Warrior ala Surabaya: Dwi Kistiono Membangun Mimpi Pentathlon dari Pinggiran Kota

Ghost It Is

Rasanya polisi desa tidak se-mengerikan polisi di malang. Terutama penangan orkes. Jika ada keributan. 2 polisi turun ke lokasi keributan. 1 orang di amankan, dua tangan di hentikan. Tidak ada pemukulan sama sekali. Sayapun pernah terjebak dalam suasana mencekam. Singkatnya keributan di orkes itu berlanjut. Desa di serang. Ada beberapa orang datang dengan senapan angin, dan samurai setelah kejadian. Akhirnya, saya profokasi seluruh orang kampung untuk bertahan dengan senjata tajam. Tidak ada cara lain. Saya lihat 40% dari mereka ketakutan. Kepolisian pun mendukung. Pokoknya jangan serang dulu. Bertahan saja. Total ada ribuan senjata tajam dari jam 4 sore sampai jam 2 malam. Ini belum termasuk bahan bakar yang di siapkan. Sekitar jam 3 malam, selesai bisa di damai. Tidak ada korban jiwa, atau luka parah.

BACA JUGA  IPSI Jatim Standardisasi Pelatih dan Juri Festival di Malang 

Fauzan Samsuri

Perombakan atau perubahan bisa dilakukan karena terpaksa/dipaksa, bisa juga dilakukan dengan disengaja. Sayang, kerap kali memilih melakukan perubahan karena pilihan pertama, menunggu tragedi/kejadian luar biasa, dalam berbangsa kita bisa mengambil contoh Tragedi G30 S, Tragedi Semanggi untuk mengawali Reformasi dan di sepak bola Tragedi Kanjuruhan. Meski menyakitkan harusnya kita memilih yang kedua; disengaja, sehingga ibarat menyembuhkan penyakit kita bisa memilih dokternya dan merencanakan pengobatnya. Semoga kedepan kita bisa berubah tanpa terpaksa dan tidak menunggu Tuhan untuk mengingatkannya.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.