Mirza Mirwan
“All Cops Are Bastard.” Meminjam “unen-unen” dalam Bahasa Jawa, anggapan seperti itu disebut “nggebyah uyah padha asine”, menyamaratakan. Gegara beberapa oknum polisi “bastard” lantas dianggap semua polisi “bastard” juga. Padahal seberapapun polisi yang brengsek dan “bastard”, masih lebih banyak polisi yang baik. Setidaknya, begitulah yang saya lihat di kota saya. Tetapi, apa boleh buat, dalam hal brengseknya oknum polisi itu seringkali malah mendatangkan malapetaka bagi siapa yang melaporkannya. Dianggap mencemarkan nama baik si oknum. Lantas muncul kesan di masyarakat bahwa atasannya permisif terhadap kebrengsekan si oknum. Berikutnya, masyarakat menganggap polisi sebagai “common enemy”, musuh bersama. Suka tak suka, malu tak malu, para petinggi Polri harus ikhlas menerima hujatan itu, seraya berusaha menegakkan disiplin anggotanya. Kasus Duren Tiga barangkali sebuah contoh. Dan Polri sudah memecat puluhan perwira, dari perwira menengah hingga perwira tinggi. Tetapi itu masih belum cukup. Di lingkup Polres/ta/tabes, masih banyak oknum bintara yang “bastard”. Menegakkan benang basah? Barangkali, iya. Tetapi benang basah masih bisa ditegakkan dengan memegangnya dari atas. Untuk jabatan Kapolsek, Kapolres, Kapolda, juga Kasat dan Kadiv harus dipegang anggota Polri yang punya kredibilitas. Mereka itu yang akan menegakkan disiplin anak buahnya.
EVMF
* baik sekali ‘nak tiap hari antar-jemput anak bapak kuliah. # ‘kan ACAB. * apaan tuh ACAB? # Aku Cinta Anak Bapak.
Chei Samen
Selamat Pagi Semua! Ada pepatah Melayu, “Jika keruh di hulu, takkan jernih di kuala”. Amat dalam maksudnya. Dipersempitkan kata, mendidik anak-cucu, bermula dari ayah (orang tua). Ortu mahu anaknyi baik (mungkin alim). Namun cara olah, cara didik kepada anak tidak membanggakan (dari pelbagai sisi). Akan gitu-gitulah anak itu.. Abah sudah tahu.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi