Semua tindakan standar itu akan melahirkan hasil yang juga standar. Semua prosedur standar itu diterapkan pada kondisi standar. Padahal, tragedi 1 Oktober ini jelas bukan peristiwa standar. Tragedi ini bukan sekadar kejadian biasa yang ordinary, tetapi peristiwa tragis yang extraordinary, luar biasa. Karena itu tindakan yang diambil harus extraordinary juga, tidak bisa hanya tindakan yang standar seperti biasanya.
Melakukan sesuatu yang biasa dan mengharapkan hasil yang luar biasa adalah kegilaan. Begitu kata Albert Einstein. Artinya, kalau kita menganggap sebuah kejadian sebagai peristiwa biasa, dan kemudian kita mengambil tindakan yang biasa, maka hasilnya juga akan biasa.
Tragedi Kanjuruhan adalah tragedi sepak bola terburuk di dunia dengan korban terbesar sejak 1964. Peristiwa ini akan menjadi trauma yang berkepanjangan bagi puluhan ribu Aremania. Tragedi ini akan tetap menjadi hantu yang menakutkan sepanjang hidup mereka.
BACA JUGA: Anies, Why Not The Best?
Lihatlah tragedi-tragedi sepak bola yang terjadi di berbagai belahan dunia. Ambillah contoh tragedi Heysel dan Hillsborough. Tragedi Heysel terjadi pada 1985 di Stadion Heysel, Brussel, Belgia. Ketika itu Liverpool dari Inggris bermain melawan Juventus dari Italia di partai final Liga Champions Eropa.
Liverpool kalah 0-1. Tetapi kerusuhan sudah terjadi sebelum kick off, ketika dua kelompok suporter saling serang dengan lemparan benda-benda apa saja. Puncaknya terjadi ketika suporter bergerak melewati pagar pembatas dan tawuran massal tidak terhindarkan. Suporter lain berusaha menyelamatkan diri dengan melarikan diri ke arah tembok yang aman. Tapi, akibat saling dorong tembok jebol dan banyak yang tertimpa reruntuhan.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi