Polri sudah mencopot kapolres Malang yang dianggap bertanggung jawab, tetapi tindakan itu dianggap tidak cukup. Desakan agar polri mencopot kapolda Jatim, Nico Afinta, bergema sangat keras. Sebagai penanggung jawab keamanan di Jawa Timur Kapolda dianggap telah gagal, dan karenanya harus dicopot.
Ketua PSSI Mochamad Iriawan alias Iwan Bule juga menjadi sasaran kritik keras dan didesak untuk mengundurkan diri. Iriawan dianggap gagal mengendalikan organisasi dan harus ikut bertanggung jawab terhadap tragedi ini. Sebuah petisi online yang menuntut pengunduran diri Iriawan sudah diteken oleh belasan ribu orang dan terus bertambah.
BACA JUGA: Politik Ganjen
Tragedi 1 Oktober di Stadion Kanjuruhan, Malang, akan menjadi luka yang bakal dikenang dan diperingati sepanjang masa. Luka itu begitu dalam, kenangan buruk itu terlalu mencekam dan terlalu kuat untuk bisa dilupakan. Setiap 1 Oktober ribuan Aremania akan mengadakan acara peringatan mengenang tragedi itu.
Polisi mungkin menganggap tragedi selesai dengan mencopot kapolres dan beberapa komandan lapangan. Presiden Joko Widodo sudah mengeluarkan pernyataan resmi, mengucapkan bela sungkawa, meminta tragedi tuntas, dan mengharap tragedi ini tidak akan terjadi lagi. Menteri Muhadjir Effendi sudah datang ke Malang, melihat-lihat lokasi, mengunjungi korban, dan memberi sejumlah santunan. Menteri Mahfud MD sudah membenetuk tim pencari fakta untuk mengungkap asal mula kejadian dan akibat-akibat yang ditimbulkannya.
Tindakan-tindakan seremonial dan formalitas itu adalah hal standar yang seolah-olah menjadi sesuatu yag otomatis untuk dilakukan oleh pemerinath ketika menghadapi situasi bencana seperti ini. Tindakan-tindakan itu menjadi bagian dari standard operating procedure atau SOP, atau protap, alias prosedur tetap. Semua dilakukan secara otomatis dan mekanik seperti mesin.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi