Silup Nangijab

waktu baca 6 menit
Coretan ACAB 1312 di Stadion Kanjuruhan (Foto: Deny Prastyo Utomo/detikJatim)

KEMPALAN: CORAT-coret graffiti di tembok dan dinding stadion Kanjuruhan menjadi saksi kemarahan para suporter Arema. Coretan ini menjadi ekspresi kesedihan sekaligus kemarahan Aremania atas tewasnya 131 suporter dalam tragedi 1 Oktober. Umumnya coretan kemarahan itu ditujukan kepada polisi yang dianggap lalai sehingga menyebabkan jatuhnya morban massal itu.

Sebagian graffiti ini ditulis dalam Bahasa Inggris, bunyinya menohok langsung ‘’Police Murderer’’, polisi pembunuh. Ada lagi graffiti yang paling banyak ditemui berbentuk singkatan ‘’A.C.A.B’’ yang kemudian disertai dengan angka ‘’1.3.1.2’’. Coretan itu paling banyak dijumpai di Pintu 13 yang disebut sebagai ‘’Pintu Misteri’’. Saat kerusuhan terjadi pintu itu terkunci sehingga ribuan suporter berdesak-desakan dan saling injak untuk menyelamatkan diri dari serangan gas air mata.

Semua sudah pada mafhum ACAB adalah singkatan dari ‘’All Cops Are Bastards’’ artinya ‘’semua polisi adalah bajingan’’. Sedangkan angka 1312 menunjukkan urutan abjad ACAB. Simbol ini menjadi jargon perjuangan para aktivis di seluruh dunia yang menentang tindakan kekerasan oleh polisi.

BACA JUGA: Jalan Tengah TNI

Simbol ACAB banyak bermunculan pada demo di Amerika Serikat setelah terjadinya kematian terhadap George Floyd di Minessotta akibat dianiaya polisi pada 2020. Ketika itu Floyd baru keluar dari minimarket membeli rokok. Ia Dicegat polisi, digeledah, dan dibanting ke trotoar. Tangannya diplintir ke belakang dan lehernya ditindih dengan dengkul. Floyd merintih ‘’I can’t breathe..’’, saya tidak bisa bernafas, tapi tidak diindahkan oleh polisi. Floyd akhirnya mati kehabisan nafas.

Peristiwa ini menyulut demo dan kerusuhan di seluruh Amerika dan dengan cepat menjalar ke seluruh dunia. Publik menuntut pembubaran institusi kepolisian dan memaksa pemerintah Amerika mencabut anggaran untuk kepolisian. Simbol ACAB menjadi simbol perlawanan yang sangat populer di seluruh dunia.

Bagi ‘’kera-kera Ngalam’’ alias arek-arek Malang, terjemahan ACAB dalam bahasa ‘’lawikan’’ adalah ‘’Silup Nangijab’’. Ekspresi ini dipakai untuk menggambarkan kekesalan terhadap polisi. Ekspresi yang sama menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia, dan di beberapa kalangan suporter Eropa. Di Jerman, suporter Bayern Munich membentangkan spanduk ‘’pembunuh’’ untuk menunjukkan duka cita terhadap tragedi Kanjuruhan. Hal yang sama ditunjukkan para suporter di Spanyol.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *