Ditemukanlah proses membuat minyak goreng kelapa sawit tanpa melalui temperatur tinggi. Itulah minyak merah. Nama yang simpel.
“Di Nigeria ternyata juga dilakukan hal yang sama. Di sana, sejak lama, rakyat menanam kelapa sawit. Lalu membuatnya menjadi minyak goreng,” ujar Donald. Ia pernah ke sana. Untuk memperdalam penelitiannya. “Proses membuatnya sangat tradisional. Semua orang bisa,” ujar Donald.
Minyak merah Donald ini memang berwarna merah. Cerah. Sekilas seperti warna air buah delima yang dimasukkan botol.
Memang masih ada kelemahannya: aromanya tidak harum seperti minyak sawit yang kita kenal. Itu perlu proses sosialisasi untuk membiasakannya. Tidak mudah. Ini pekerjaan berat. Namun olive oil pun begitu. Aromanya juga tidak seperti minyak goreng yang kita kenal. Tapi rasa olive oil dianggap rasa yang tinggi karena berhasil masuk ke kalangan atas. Keberhasilan itu dipicu oleh khasiat olive oil yang bisa membuat sehat –sedang minyak goreng biasa dianggap sumber kolesterol.
BACA JUGA: Pendidikan Kering
Apakah minyak merah akan bisa menembus pasar yang didominasi aroma harum minyak goreng?
Dari harganya yang ”hanya” Rp 15.000 /liter harusnya bisa. Hanya selisih sekitar Rp 3.000 dari minyak goreng sawit. Tapi soal aroma gorengan tadi soal yang sangat besar. Sehat bisa kalah dengan enak. Khasiat bisa kalah dengan selera.
Kita biasa pilih sakit tapi enak daripada sehat tapi kurang enak.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi