Kamis, 18 Juni 2026, pukul : 11:45 WIB
Surabaya
--°C

Sambo dan Rhythm 0: Mengukur Sisi Gelap Manusia

Mata Marina berkaca-kaca. Namun dia tetap diam.

Seorang wanita kemudian memeluknya. Dan pengunjung lain yang sedari awal sebenarnya mau menolong tapi takut, mulai bergerak maju.

Ada yang mengobati lukanya, sebagian lagi menahan pengunjung lain yang ingin berbuat lebih jahat padanya.

Kekacauan terjadi di sana. Pengunjung terpecah. Ada kelompok yang ingin melindunginya, sebagian lain ingin berbuat lebih jauh kepadanya.

Sedangkan sisanya tampaknya cuma ingin menikmati pertunjukan itu selagi bisa.

Kekacauan itu berhenti saat kurator studio itu mengumumkan jika enam jam telah usai.

Marina, dengan wajah, leher, dan tangan berdarah penuh sayatan pisau, mulai bergerak.

Hal ini membuat pengunjung yang tadi berbuat jahat padanya lari tunggang langgang. Rasanya sulit menerima Marina yang tadinya hanyalah obyek yang diam, menjadi manusia aktif kembali.

BACA JUGA  Sinergi Polsek Wonoayu dan Petani Optimalkan Lahan Jagung, Perkuat Program Swasembada Pangan

Inilah yang terjadi jika manusia dihadapkan oleh kekuasaan tanpa batas dan konsekuensi. Apalagi jika yang menjadi target kekuasaan itu adalah manusia yang pasif. Diam. Tak berdaya.

Sisi gelap seorang manusia bisa saja menjelma menjadi kebrutalan jika menghadapi obyek seperti itu.

Karena semua manusia memiliki limitasi masing-masing, mutlak diperlukan “pagar’ sebagai pembatas jika tidak ingin kekacauan terjadi.

Berbagai aturan, hukum, terutama agama ditujukan untuk itu. Dan karenanya aturan dan sanksi yang menyertainya adalah kebutuhan dasar manusia untuk menjalankan fungsi kemanusiaannya.

Kekuasaan tak berbatas sudah sering sekali menghasilkan manusia-manusia yang kehilangan hati nurani. Adolf Hitler, Timur, Qin Shi Huang, Genghis Khan adalah nama-nama pemimpin di dunia yang tercatat sejarah sebagai “pembantai” manusia. Jutaan nyawa terbunuh di tangan mereka.

BACA JUGA  Siapa Doni Wijanarko

Manusia yang fitrahnya mencintai kehidupan, berubah menjadi pencinta kematian.

Tidak perlu mengalami kelainan jiwa untuk menjadi manusia monster seperti itu. Cukup berikan saja kekuasaan tanpa batas.

Usai mengalami performance art Rhythm 0, enam jam paling berbahaya dalam hidupnya itu, Marina Abramovic mengatakan, manusia bisa menjadi berbahaya jika memiliki kekuasaan tanpa batas.

Tapi untuk mencapai kondisi itu, tetap diperlukan korban sebagai obyek yang tak berdaya, dan lingkungan sekitar yang juga pasif.

”Kalau kita memilih menjadi obyek yang pasif, yang diam saja dan menyerahkan hidup kita dengan orang lain, itu berarti kita memicu orang lain itu untuk menampilkan sisi gelapnya. Dan karena itu kita bisa terbunuh,” ujarnya. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.