
KEMPALAN: Turun gunung tentu bukan turun dari manjat gunung. Turun gunung ditarik menjadi makna struktural, dan itu bermakna semacam come back. Kembali hadir setelah lama meninggalkan “gelanggang” di mana dulu ia bergelut.
Turun gunung maknanya dipertegas Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Presiden RI ke-6. Presiden yang terpilih langsung dua periode di Era Reformasi. Lewat Pilpres yang nyaris tanpa kecurangan. Kenapa SBY sampai menegaskan mesti turun gunung. Ada apa sebenarnya?
Dalam Rapimnas Partai Demokrat, dalam pidatonya sebagai Ketua Majelis Tinggi Partai Dekokrat, didepan ribuan kader, SBY mencium akan adanya penyelenggaraan Pilpres 2024 yang penuh kecurangan. Sebuah antisipasi mantan jenderal yang punya penciuman tajam.
Tentu SBY tidak asal ngomong. Karena SBY bukan tipe pemimpin yang kerap obral kata penuh dusta. Semua yang disampaikan pastilah dengan penelusuran tajam dan terukur. Maka, turun gunung seorang SBY pastilah disyukuri mereka yang menginginkan pilpres akan berjalan relatif bersih dan jurdil.
SBY pun mengatakan, bahwa ia mencium adanya “pemaksaan” pemilu yang hanya diikuti dua pasangan capres/cawapres. Tentunya dua pasangan yang mendapat restu dari “genderuwo”, sebutan lain yang bisa disematkan pada oligarki.
Genderuwo disebut oleh Partai Demokrat sebagai pembegal mereka yang diusung sebagai capres/cawapres bersama partai koalisi. Tampak Partai Demokrat, utamanya SBY, akan benar-benar serius mengawalnya. Tidak membiarkan pemilu dibuat dengan penuh kecurangan.

Partai Demokrat, sepertinya bersama PKS, akan berkoalisi. Tentu dua partai ini masih belum memenuhi ambang batas bisa mencalonkan capres/cawapresnya sendiri. Tapi sepertinya jika melihat hasil Rakernas Partai Nasdem yang lalu, nama Anies Baswedan merupakan satu nama yang paling banyak dipilih untuk diusung sebagai capres. Disamping nama Ganjar Pranowo dan Andika Perkasa.
Jika Partai Demokrat dan PKS jelas mengusung Anies Baswedan sebagai capres, maka pilihan yang sama dengan Nasdem bisa disatukan dalam satu koalisi. Penjajakan koalisi dengan Partai Nasdem sudah jauh hari digodok bersama, baik Partai Demokrat maupun PKS. Sepertinya tinggal dikerucutkan saja siapa cawapresnya. Meski nama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), ketua umum Partai Demokrat, digadang-gadang muncul sebagai cawapres.
Semua serba kemungkinan untuk bisa direalisir maupun sebaliknya. Parameternya bukan semata samanya platform, tapi juga perlawanan keras “genderuwo” yang tidak menginginkan munculnya capres/cawapres diluar yang dikehendaki, sebagaimana yang disinyalir SBY.
Maka, turun gunungnya SBY, juga Jusuf Kalla, diharap bisa mengawal pemilu yang jurdil. Dan tidak kalah penting sikap ketua umum Partai Nasdem Surya Paloh, yang semoga tetap mampu menghadirkan pasangan capres/cawapres yang diharap bisa mengubah wajah Indonesia kedepan yang lebih baik. Rakyat harap-harap cemas sampai deklarasi koalisi itu benar-benar diwujudkan. Tentu lebih cepat akan lebih baik. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi