Kelak, ketika sang ayah sudah menjadi pengusaha bus, hubungan baik itu sangat berguna. Ia mengadu soal perpremanan di Merak-Bakauheni.
“Beres,” ujar Sang jenderal. “Bilang saja bus itu milik saya,” tambahnya.
Tidak hanya kata-kata. Sang jenderal juga menulis oret-oret: jangan ada yang ganggu bus-bus miliknya.
BACA JUGA: Empat Sekawan
Himawan lantas meminta agar bus itu ditambah kata Siliwangi di depan nama lamanya. Himawan adalah Pangdam Siliwangi. Jadilah Siliwangi Antar Nusa (SAN). Tanpa sang jenderal benar-benar memilikinya. Sampai sekarang.
Bus Siliwangi pun tidak disentuh preman. Kurnia menjaga perusahaan itu sebagai generasi kedua. Perubahan demi perubahan ia lakukan.
Salah satu perubahan pelayanan ”zaman baru” adalah begini: misalkan bus itu mogok. Lalu dipinggirkan. Penumpang tidak perlu berlama-lama berdiri di pinggir jalan yang pengap. Perusahaan mendatangkan mobil jemputan. Penumpang diangkut ke tempat yang layak. Bisa ke fasilitas umum, ke masjid atau depot terdekat. Atas biaya perusahaan.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi