JAKARTA-KEMPALAN: Beberapa ekonom Indonesia mengatakan bahwa perekonomian di Indonesia akan terkena dampak jika konflik antara China dan Taiwan benar-benar panas atau terjadi.
Menurut Faisal, jika perang atau konflik China dan Taiwan benar-benar terjadi, perdagangan Indonesia akan terhambat.
“Dampak dari perang tentu saja akan menekan perdagangan Indonesia-Taiwan,” tutur Faisal pada Jumat (5/8/2022).
Hal tersebut dapat dirasakan Indonesia karena menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada kuartal I-2022 pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,23 persen.
Bima Yudhistira, Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios), memperkirakan bahwa di kuartal II-2022 ini pertumbuhan ekonomi Indonesia akan lebih sulit dari yang dibayangkan.
Salah satu penyebabnya, yaitu adanya konflik antara China dan Taiwan serta diperkirakan ketegangan geopolitik itu akan jauh lebih buruk dibandingkan konflik antara Rusia dan Ukraina.
“Konflik China dan Taiwan diperkirakan memperburuk rantai pasok yang menimbulkan pelemahan sisi investasi langsung,” ucap Bima dilansir dari merdeka.com.
Dampak selanjutnya terhadap Indonesia adalah karena negara Taiwan berada di tengah konflik antara China dan Amerika Serikat yang lebih besar.
China dan Amerika Serikat berkaitan dengan tujuan ekspor Indonesia yang dari total ekspor masing-masing menyumbang angka 21 persen dan 11 persen.
“Artinya, 32 persen atau sepertiga ekspor Indonesia terancam, dan menurunkan surplus neraca dagang,” ujarnya.
Mohammad Faisal, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, mengatakan bahwa salah satu mitra dagang utama dari Indonesia yang utamanya dalam produk manufaktur adalah Taiwan.
Taiwan merupakan negara yang dapat menghasilkan kemampuan untuk memproduksi chip, produk teknologi informasi, dan chip. Selain itu, sebanyak 300 ribu Warga Negara Indonesia (WNI) pun berada di Taiwan.
Sementara itu, Nailul Huda, Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), mengatakan dampak yang disebabkan oleh konflik China-Taiwan untuk ekonomi global dan Indonesia adalah terjadinya krisis pasokan chip.
Berdasarkan data dari Counterpoint Research yang dikutip dari CNN.com, Taiwan Semiconductor Manuffacturing Company (TSMC) menguasai sebesar 70 persen pasar global.
“Produk semakin langka dan harga bisa tambah mahal. Semakin rebutan perusahaan-perusahaan mobil, elektronik untuk mendapatkan chip dari Taiwan,” terang Nailul.
Teuku Rezasyah, Ahli Hubungan Internasional Universitas Padjajaran, menjelaskan bahwa sejak 1949 Taiwan sudah selalu siap untuk berperang dengan China atau setelah China dikuasai oleh Partai Komunis pimpinan Mao Zedong.
Selain itu, warga Taiwan pun juga telah menjalani wajib militer dan mendapat dukungan dari negara Amerika Serikat. Situasi makin memanas setelah Ketua DPR AS, Nancy Pelosi, berkunjung.
“Kalau terjadi serangan dari China, maka akan terjadi pembalasan yang dahsyat. Kalau orang Jawa bilang, mati siji mati kabeh (bila ada yang mati satu maka semua bakal mati sekalian),” ungkap Rezasyah. (CNN/Merdeka/Detik, Arlita Azzahra Addin)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi