Ucapan pertama yang muncul dari lisannya, adalah terima kasih atas tulisan-tulisan pembelaan atasnya. Saya memang aktif menulis semacam “pembelaan” atas ketidakadilan yang diterimanya. Sejak Habib Rizieq kembali dari “tanah pengasingan” Mekkah, sekitar 3,5 tahun, saat ditahannya dan proses pengadilan–juga pembubaran FPI dan kronik yang mengitari.
Tulisan-tulisan itu–usulan banyak kawan agar dibukukan. Kata Mas Mustofa Nahrawardaya, pegiat media sosial dan Pemred Majalah Tabligh Muhammadiyah–meski agak berlebihan, bahwa buku itu nantinya bisa jadi asset bersejarah.
Karenanya, tulisan-tulisan itu sedang proses dibukukan. Judul Tuhan Tidak Diam: Episode Gapai Keadilan Habib Rizieq Shihab. Dengan Prolog Dr. Refly Harun, dan Epilog Dr. Ahmad Sastra. Dan tahniah banyak kawan atas buku itu: Rocky Gerung, Asyari Usman, Smith Alhadar, Tony Rosyid, Lieus Sungkarisma, Abdul Chair Ramadhan, Mustofa Nahrawardaya, Tjahya Gunawan. Tidak lama lagi diikhtiarkan terbit, in Syaa Allah.
Ada yang “menakjubkan”, bahwa saya, juga Refly Harun dan Ahmad Sastra tidak mengenal Habib Rizieq sebelumnya. Bahkan sepertinya, Ahmad Sastra sampai sekarang bisa jadi belum pernah jumpa. Saya baru jumpa saat di rumah sakit, dan Refly Harun, jumpa pertama kali dengan Habib Rizieq di PN Jakarta Timur, saat ia diminta lawyernya untuk menjadi saksi ahli. Tapi Refly Harun sudi menulis prolog lumqyan panjang, lebih kurang 8 halaman, dan Ahmad Sastra menulis epilog sekitar 10 halaman. Bisa jadi faktor frekuensi yang sama mampu menyatukan “pembelaan” atasnya. In Syaa Allah buku ini akan tersaji cukup baik, dan full colour.
Baik kita kembali ke jalan Petamburan III…
Jalan Petamburan III di siang hari, saat kunjungan itu, terpantau lengang, seperti tidak pernah ada “geger” nasional dicipta di sana mampu menyita perhatian publik luas. Pemberitaan Habib Rizieq Shihab dan FPI nya, diberitakan bukan berhari-hari, tapi berbulan tak habis. Bahkan persidangannya menyita perhatian publik luas, bahkan diliput media asing.
Jalan Petamburan III, itu cuma gang sempit. Tapi di gang sempit itu–kediaman Habib Rizieq dan Markaz FPI–peristiwa gegap gempita pernah dibuat. Dan sejarah pastilah mampu mencatatnya dengan rapi.
Akankah jalan Petamburan III setelah “kedatangan” Habib Rizieq, itu suasana menjadi berbinar kembali? Sepertinya akan demikian. Semua berharap akan ada catatan sejarah baru dibuat di sana. Bersabarlah menunggu. Seperti kita telah sabar menunggu pembebasannya. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi