Senin, 1 Juni 2026, pukul : 17:27 WIB
Surabaya
--°C

From Russia with Love

Misi Jokowi ini mirip dengan misi yang dilakukan oleh Presiden Soeharto ke Bosnia-Herzegovina pada 1995. Ketika itu perang Bosnia sedang berada pada puncaknya. Agresi Serbia terhadap Bosnia yang penduduknya mayoritas muslim menyeret wilayah Balkan menjadi daeah konflik yang berbahaya yang bisa merembet menjadi perang skala penuh yang lebih luas di Eropa.

Presiden Soeharto sebagai pemimpin Gerakan Non-Blok berusaha mempergunakan pengarauhnya untuk membujuk pihak-pihak yang bertikai untuk menghentikan agresinya. Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia Indonesia mempunyai kredensial tinggi di mata internasional untuk melakukan mediasi di Bosnia.

Kehadiran Presiden Soeharto di Bosnia-Herzegovia diwarnai dengan berbagai ketegangan yang dramatis dan heroik. Konflik Balkan itu memakan ribuan korban dan sudah berlangsung selama 3 tahun.

BACA JUGA  Dekade Baru Ashuma: Revolusi Sport Science dan Pemulihan Atlet Nasional Berpusat di Sidoarjo

BACA JUGA: Boy

Pak Harto bertekad bertolak ke Eropa untuk terjun ke area konflik secara langsung. Pak Harto berharap, kehadirannya di Bosnia dapat menjadi penengah konflik sekaligus menunjukkan simpati kepada umat Muslim Bosnia yang menjadi target serangan etnis Serbia.

Konflik ini berawal dari keinginan Bosnia-Herzegovina untuk memerdekakan diri dari federasi Yugoslavia yang kemudian ditolak oleh Serbia sebagai negara yang paling dominan di wilayah Balkan. Terjadi persekusi dan pembunuhan besar-besaran yang dikenal sebagai ethnic cleansing, pembersihan etnis, di Balkan. Ribuan orang dibunun dan wanita-wanita diperkosa.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.