Negara-negara itu serumpun sesama etnis Slavic tetapi dipisahkan oleh sub-etnik yang saling bermusuhan terutama karena perbedaan agama. Runtuhnya komunisme Uni Soviet dan Eropa membuat negara-negara kecil di Balkan di bawah federasi Rusia ingin memerdekakan diri. Perang antar-etnis tidak terhindarkan karena batasan geografis yang kabur di antara wilayah-wilayah etnis itu.
Pada Maret 1995, Presiden Soeharto bersama rombongan tiba di Eropa. Mereka sempat singgah di Zagreb, Kroasia dan bertemu langsung dengan Presiden negara itu Franjo Tudjman untuk merundingkan berbagai strategi yang memungkinkan untuk mengakhiri konflik. Kroasia juga sudah memerdekakan diri dan menghadapi ketegangan dengan Serbia yang agresif.
BACA JUGA: Pemersatu Bangsa
Di Kroasia, rombongan Indonesia mendapat kabar tentang pesawat yang ditumpangi utusan khusus PBB, Yasushi Akashi, ditembak jatuh pada 11 Maret 1995 saat terbang ke Bosnia. Kabar ini tidak menyiutkan nyali Soeharto. Pada 13 Maret 1995, Pak Harto pamit kepada Presiden Kroasia untuk terbang ke Bosnia menggunakan pesawat sewaan buatan Rusia yang dibuat oleh PBB.
Sebelum pesawat lepas landas, rombongan Indonesia, termasuk Soeharto diminta untuk mengisi formulir pernyataan risiko. Formulir tersebut menyatakan bahwa PBB tidak akan bertanggung jawab atas kejadian apapun yang menimpa Soeharto dan rombongan dalam kunjungan tersebut.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi