Menu

Mode Gelap

Kempalanbis · 20 Jun 2022 20:40 WIB ·

Hari Ini Bitcoin Tembus USD 20.000, Tanda Kripto akan Pulih?


					Ilustrasi grafik perdagangan bitcoin (alesia kozik/pexels) Perbesar

Ilustrasi grafik perdagangan bitcoin (alesia kozik/pexels)

JAKARTA-KEMPALAN: Pada perdagangan Senin (20/6/2022), Bitcoin mulai menanjak setelah sebelumnya sempat anjlok ke level terendah semenjak tahun 2011. Bitcoin berhasil menyentuh USD 20.000 kembali atau sekitar Rp296.4 juta, tetapi para analis ragu Bitcoin akan bertahan lama di angka tersebut.

Bitcoin dibanderol seharga USD 20.500 pada pagi ini, yaitu dalam 24 jam terakhir berhasil naik lebih dari 8 persen. Padahal, pada hari sebelumnya kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar itu sempat anjlok di bawah USD 19.000.

CIO Selini Capital, Jordi Alexander, mengatakan bahwa harga Bitcoin melonjak karena para pedagang mencerminkan selera baru terhadap risiko.

“Pembeli bersedia menunggu untuk membeli koin dengan harga murah. Mereka harus menentukan apakah mereka akan membeli 20 persen lebih rendah, dan ini merupakan kesempatan mereka. Jika mereka menunggu terlalu lama, mereka harus membeli pada harga yang lebih tinggi,” ucap Alexander.

Joe DiPasquale, CEO Manajer Dana Kripto BitBull, mengingatkan bahwa kemungkinan tren makro yang terjadi akan tetap pada kondisi bearish sampai setidaknya Federal Reserve mengubah atau melonggarkan kebijakannya pada Juli mendatang dalam Federal Open Market Committee (FOMC).

“Kami telah menandai USD 19.000 sampai USD 20.000 dan USD 16.000 hingga USD 17.000 sebagai bidang minat, dan Bitcoin memantul dari yang terakhir. Namun, kecuali jika berhasil mempertahankan USD 20.000 dengan volume dan penawaran tinggi, kami tidak akan mengharapkan reli berlanjut,” jelas Joepada Senin (20/6/2022).

Afid Sugiono, Trader Tokocrypto, mengatakan bahwa kenaikan suku bunga akan mengurangi minat para investor untuk menyimpan asetnya di kripto karena berisiko. Terlebih kekhawatiran yang datang karena The Fed dikabarkan akan terus mengerek suku bunga acuannya dan membawa ekonomi Amerika Serikat ke resesi.

Adanya kondisi tersebut menyebabkan investor institusional atau ritel lebih memilih untuk menyimpan asetnya pada institusi keuangan tradisional atau perbankan dan pastinya akan berdampak pada pasar kripto yang dalam beberapa waktu ke depan akan kehilangan volume perdagangan.

Menurut Afid, baik dalam analisis teknikal maupun fundamental tidak ada satu pun yang menunjukkan pasar kripto akan bullish.

“Jika bear market masih terus berlanjut harga Bitcoin bisa turun dan mencoba untuk melanjutkan tren turun level support berikutnya di US$ 17.500 dan kemudian US$ 16.000,” ucapnya.

Kemudian Andrew Brenner, Kepala Pendapatan Tetap International di National Alliance Securities, mengatakan bahwa saat The Fed memperketat pasokan Dolar AS dengan kebijakan moneter yang ekspansif mata uang digital bukanlah investasi yang baik.

“Selama Dolar AS terus menunjukkan kekuatan, mata uang digital bukanlah tempat yang Anda inginkan,” ungkap Brenner. (Kontan/Liputan6/Kompas/Medcom.id, Arlita Azzahra Addin)

Editor: Reza Maulana Hikam

Artikel ini telah dibaca 13 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

1 Juli 2022 - 11:47 WIB

Holywings di Surabaya Akan Terus Dibekukan Jika Operasionalnya Tak Sesuai Izin yang Dikantongi

30 Juni 2022 - 22:27 WIB

Resmikan Rumah Padat Karya Dukuh Sutorejo, Wali Kota Eri Cahyadi: Potensi Destinasi Wisata Surabaya!

30 Juni 2022 - 18:39 WIB

Percepatan Investasi di Jatim, Wagub Emil Dardak Dorong Potensi Teluk Lamong

30 Juni 2022 - 18:04 WIB

Aplikasi e-Peken Surabaya Dijadikan Percontohan Nasional oleh BPKN RI

30 Juni 2022 - 05:50 WIB

Era Anies Sukses Turunkan Angka Kemiskinan

30 Juni 2022 - 05:33 WIB

Trending di Kempalanbis