Sabtu, 30 Mei 2026, pukul : 13:00 WIB
Surabaya
--°C

Rampas Motor di Lebak Bulus, Kajian Viktimologi

Menurut Wolfgang, baik penjahat maupun korban umumnya tidak mempelajari viktimologi. Penjahat dan korban, mengalir begitu saja. Penjahat belajar dari pengalaman kejahatannya. Bisa mereka pelajari ketika mereka dipenjara (umumnya penjahat begini adalah residivis).

Di bukunya Wolfgang menyebut, ada orang yang menarik bagi perampok untuk dijadikan korban. Itu disebut Victim Precipitator. Profil khas yang menarik minat perampok untuk menjadikan orang itu sebagai korban. Risetnya detil di buku itu.

Di kasus Lebak Bulus, satu-satunya yang menarik pada korban IR, adalah motornya Honda, kondisi bagus. Tampak seperti baru. Karenanya, para pelaku bermodus ‘motor kredit’. Dan kebetulan, tepat. Tapi, ternyata tidak menunggak kredit.

BACA JUGA: Podcast LGBT Corbuzier, Demi Viewers?

BACA JUGA  Membaca ‘The Economist’ dari Sudut Pandang Kedaulatan Ekonomi Indonesia

Selebihnya, dikaitkan teori kriminologi di buku Wolfgang, tidak tepat.

Narasumber ke dua, dikutip dari Reader’s Diggest, bertajuk: “I’m a Mugger, Here’s How to Outsmart Me“, penulis Lauren Cahn, dimuat 29 November 2021, cocok untuk satu indikator saja.

Itu riset berdasarkan wawancara dengan penodong bernama David Solano. Penghuni Penjara New York, Amerika Serikat, untuk hukuman 25 tahun. Solano sudah terbukti menodong lebih dari 100 kali. Sebagian korbannya tewas.

Di situ disebutkan: “Target favorit David Solano adalah, seperti yang ia katakan: Siapa saja yang sendirian. Terutama di tempat sepi. Dan, di kegelapan malam.”

Di kasus Lebak Bulus, hanya cocok satu: Korban sendirian.

BACA JUGA  Trofi FIFA: Piala Dunia Rasa Arisan
forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.