Sabtu, 30 Mei 2026, pukul : 12:59 WIB
Surabaya
--°C

Rampas Motor di Lebak Bulus, Kajian Viktimologi

Tiba di daerah Joglo, Kembangan, Jakarta Barat, tiga motor itu berhenti. OYS menyuruh IR mengambil HP-nya yang dipegang pelaku lain. Saat IR turun, motor digas oleh OYS.

Tapi, IR menahan besi belakang motor sekuatnya. Karena nggak kuat, terlepas. Pelaku kabur. Tiga motor kabur. Sementara IR berteriak-teriak minta tolong.

Ternyata, motor OYS menabrak motor yang dikendarai ibu-ibu. Mungkin karena OYS panik. Mereka jatuh bersama. Saat itulah IR berlari mendatangi OYS sambil beteriak: “Begal… begal…”

OYS ditangkap warga. Sempat dipukuli. Tapi polisi lewat dan membawa OYS ke Mapolsek Kembangan. “Tiga pelaku lain masih kami buru,” kata AKP Reno.

Sederhana, konvensional, dan tanpa senjata. Pelaku mengandalkan keroyokan. Korban terlambat bertindak. Mestinya ia melawan sejak di TKP pertama. Karena para pelaku tidak bersenjata. Tapi, entah mengapa, ia baru melawan di TKP kedua.

BACA JUGA  NPD Sulit Akui Kesalahan

BACA JUGA: Uxoricide di Tasikmalaya setelah Hassan-Juju Cerai

Kasus itu dianalisis dari tiga narasumber, ada benang merah yang bisa diambil pelajaran.

Narasumber pertama, Martin F. Wolfgang dalam bukunya: “Victim Precipitated Criminal Homicide” (1957) memaparkan, perampok punya gambaran calon target. Mereka tidak memilih korban secara acak. Semakin sering penjahat merampok, mereka jadi ahli menentukan calon korban.

Buku Wolfgang mengulas viktimologi (ilmu tentang korban kejahatan). Viktimologi adalah anak dari kriminologi (ilmu tentang kejahatan). Di viktimologi dirinci tipologi calon korban kejahatan. Dengan mengetahui ini, orang bisa waspada, agar tidak jadi korban kejahatan.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.