JAKARTA-KEMPALAN: Perayaan Idul Adha di Turki sedikit terganggu karena harga hewan qurban khususnya domba melonjak tajam sehingga sangat sulit untuk dijangkau. Lonjakan harga tersebut disebabkan karena laju inflasi yang tinggi.
Hewan qurban di Turki, misalnya, domba umumnya dibanderol dengan harga rata-rata sekitar 3.000 lira Turki, sedangkan untuk sapi dijual dengan harga yang jauh lebih mahal, yaitu 25.000 lira Turki.
Sejak Presiden Recep Tayyip Erdogan melakukan percobaan ekonomi di dalam negaranya, harga-harga menjadi tidak terjangkau dan bisa berlipat ganda bahkan bisa naik sebanyak tiga kali lipat. Naiknya harga tersebut membuat standar hidup masyarakat Turki menjadi menderita.
Secara tahunan, inflasi di Turki yelah mencapai 78,6 persen. Walaupun masyarakat dan para ekonom Turki biasa tidak percaya dengan data pemerintah. Namun, jika angka tersebut dapat dipercaya pun itu lebih tinggi dari inflasi di pasar negara berkembang lainnya, bahkan hampir mencapai 10 kali lipat inflasi yang melanda Uni Eropa.
Meskipun laju inflasi memanas, tampaknya bank sentral Turki masih belum memutuskan untuk menaikkan tingkat suku bunga.
“Tingkat inflasi tahunan di Turki mencapai 78,62 persen untuk Juni,” ujar Institut Statistik Turki.
Kelompok ENAG melakukan survei independen yang telah dipercaya oleh masyarakat Turki dan mengatakan bahwa tingkat inflasi Turki secara tahunan adalah mencapai 175 persen.
Semsi Bayraktar, Ketua Serikat Kamar Pertanian Turki, memperkirakan bahwa pada tahun ini penjualan turun sebanyak seperempat.
Karena hal tersebut biaya ternak meningkat sebanyak empat kali lipat, sementara sejak Kurban Bayrami terakhir dilaksanakan jumlah yang dibayarkan oleh seorang peternak untuk membawa ternaknya ke Istanbul telah meningkat sebanyak tiga kali lipat.
Kenaikan harga tersebut membuat para peternak menaikkan harga hewannya sebanyak dua kali lipat.
“Tahun lalu, saya menjual 500 kg daging sapi seharga 20.000 lira. Tahun ini, saya mematok harga 45.000 lira,” kata salah satu peternak, Galip Toklu.
Seorang warga Turki, Salih Yeter, menanggapi terjadinya krisis dengan keluar mencari domba yang sempurna bersama tujuh temannya yang akan berkontribusi juga dalam pembelian domba.
“Orang biasanya tidak mampu makan daging,” katanya dan sambil menambahkan bahwa di saat-saat sulit memberikan daging kepada orang miskin itu sangat penting. (Sindo/Tribun/Medcom.id, Arlita Azzahra Addin)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi