Rabu, 22 April 2026, pukul : 02:53 WIB
Surabaya
--°C

Aplikasi Migor

Budi Utomo

Kepemilikan senjata api di US dapat ditarik mundur ke UK Bill of Rights 1688/1689 yang menjamin rakyat England yang mayoritas Protestan memiliki senjata api untuk bersama-sama dengan Parlemen melawan Raja yang bertindak semaunya. Ini terkait dengan sejarah UK yang rumit dan berliku yang tak mungkin saya ceritakan rinci di sini. Singkat kata, UK terbentuk sebagai siasat Parlemen England menyatukan Raja Scotland yang Katolik Roma dengan Ratu England yang Protestant. Karena itu lagunya God Saves The Queen. Bukan God Saves The King. Melalui taktik ini pelan-pelan Scotland, baik raja maupun rakyatnya, di-Protestan-kan. Back to topic. Pada abad 20, UK merevisi Bill of Rights 1688/1689 itu hingga berkali-kali dan akhirnya boleh dibilang melarang sipil memiliki senjata tanpa izin pemerintah. Tapi tidak di Amerika. Di US, setelah merdeka dari UK, senjata api tetap diperlukan untuk memerangi suku-suku asli dan mencaplok tanah mereka. Tanah adalah kapital untuk bercocoktanam. Belakangan setelah Revolusi Industri dan muncul Manufacturing di Northern States, terjadi ketegangan dengan Southern States yang tetap agriculture yang memerlukan budak kulit hitam. Terjadi civil war yang tentunya terjadi konflik senjata api terbesar dalam sejarah USA dimana sesama warga negara saling tembak dan saling bunuh. Itu di pertengahan abad 19 (1861-1865). Selepas perang saudara, kepemilikan senjata api oleh milisi sipil tak pernah direvisi walau sudah memakan korban tewas 4 Presiden. Duh kena batas lagi.

Mirza Mirwan

Sebenarnya ada belasan negara bagian di AS yang punya aturan tentang senjata api, meskipun tidak efektif menekan penyalahgunaannya. Masing-masing negara bagian menamakan aturan itu berbeda-beda. Tetapi secara umum disebut “Red Flag Laws”. Nah, maunya pemerintahan Biden, Kongres mengadopsi “Red Flag Laws” itu dengan penyempurnaan dan berlaku sebagai UU Federal — berlaku untuk semua semua negara bagian, termasuk teritorial di bawah Administrasi AS seperti Guam dan Puerto Rico. Tetapi batu sandungannya bukan hanya anggota Kongres dari GOP, bahkan dari Demokrat sendiri banyak yang keberatan. Padahal, hanya membatasi kepemilikan, misalnya, minimal berusia 30 tahun saja, sepertinya cukup efektif. Selama ini, di setiap penembakan brutal yang memakan banyak korban, usia pelaku masih di bawah 30 tahun. Usia dengan jiwanya masih labil. Penembakan di Politeknik Virginia yang memakan korban tewas 33, 2007, pelakunya (Cho Seung-hui) berusia 23 tahun. Penembakan di SD Sandy Hook, Newton, Connecticut, 2012 yang memakan korban 28 orang — kemarin saya menulis 26 orang, pelakunya (Adam Pieter Lanza) berusia 20 tahun. Dan Salvador Ramos kemarin itu baru 18 tahun. Begitulah. Waktu bicara di pertemuan tahunan NRA Jumat kemarin, Donald Trump malah seperti mengejek orang-orang Demokrat (termasuk Biden) sebagai “cynical politicians seeking to exploit the tears of sobbing families to increase their own power and TAKE AWAY OUR CONSTITUTIONAL RIGHTS”.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.