SUMENEP-KEMPALAN-Hati Kades Sapeken, Sumenep, Joni Junaidi begitu bening. Meski didesak untuk melapor atas ulah pelaku penganiayaan kepada dirinya. Kades Joni milih menerima atas perlakuan penganiayaan itu.
Alasan Kades Joni sederhana. Pelaku penganiayaan masih warganya. Kades Joni ingin melindungi semua warganya.
“Pelaku warga saya. Sebagai Kades, saya harus melindungi warga walau berbuat aniaya kepada saya,” ucap Kades Joni dalam jumpa pers kepada sejumlah wartawan di salah satu cofe di Sumenep, Kamis malam (19/5/2022).
Dalam pertemuan itu, Kades Joni juga menjelaskan kronologi kasus yang kini dilaporkan oleh pelaku penganiayaan ke Mapolsek Sapeken.
Kata Joni-penganiayaan bermula saat dirinya mengeluarkan Surat Edaran (SE)
tentang Perubahan Jam Akhir Pengoperasian Odong-Odong-Angkutan Umum Desa Sapeken.
SE itu semata imbauan batasan jam operasi odong-odong yang semula selesai beroperasi pukul 17.00 WIB dimajukan pada pukul 16.30 WIB.
Imbauan ini dikeluarkan Pemerintah Desa (Pemdes) Sapeken demi menjaga kenyamanan masyarakat menjelang waktu magrib tiba.
Sayang, SE itu direspon berlebihan oleh Bambang Kuswandi (34), salah satu warga Dusun Ra’as, RT 004/RW 001, Desa Sapeken.
Pemdes Sapeken bersama stakeholder desa telah melakukan Musyawarah Desa (Musdes). Hasil Musdes itu disepakati isi SE batasan operasional odong-odong untuk kebaikan bersama warga Sapeken.
Sebelum SE itu diterapkan, Pemdes Sapeken melakukan sosialisasi terlebih dahulu kepada warganya.
Karena Wawan tak menghiraukan imbauan SE Pemdes Sapeken. Kades Joni melakukan pemanggilan kepada Wawan untuk memberikan arahan.
Saat dilakukan mediasi di Balai Desa Sapeken, 12 Mei lalu. Wawan secara lantang menolak aturan jam operasi angkutan umum odong-odong yang diikat melalui SE itu.
“Saat itu kami panggil Wawan ini ke Balai Desa. Wawan bersama empat orang temannya. Tujuannya, untuk memediasi pelanggaran yang telah dilakukan Wawan,” kata Kades Joni mengungkapkan.
Kades Joni mengakui mediasi itu berjalan alot. Lalu cekcok mulut antara dirinya dan Wawan.
Wawan terus mengeluarkan kata-kata kasar. Wawan tak terkontrol berucap. Kades Joni pun tersulut emosi.
Kades Joni menghampiri Wawan untuk menegurnya. Tapi Wawan kian kalap dengan kata-kata sangat kasar.
“Saya pegang krah baju Wawan. Seketika Wawan nonjok muka saya mengena mata kiri,” cerita Kades Joni.
Cekcok berujung penganiayaan kepada Kades Joni pun berhasil direlay oleh Satuan Tugas Khusus (Satgasus) Desa Sapeken yang malam itu ada di samping Kades Joni. Lalu Satgasus ikut mengantar Kades Joni pulang ke rumah.
Mendengar Kades Joni dianiaya. Para pendukung berdatangan menemuinya. Sambil menahan sakit akibat tonjokan Wawan. Kades Joni menemui para pendukung saat Pilkades dulu.
“Waktu saya menemui pendukung. Memar di sekitar kelopak mata terlihat. Saya menemui tamu sambil menahan sakit,” kata Kades Joni.
“Para pendukung mendesak saya untuk visum dan melapor perbuatan Wawan. Tapi saya tolak. Bagaimana pun Wawan warga saya. Sebagai Kades saya harus melindungi semua warga,” terang Joni menambahkan.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi