Minggu, 21 Juni 2026, pukul : 08:05 WIB
Surabaya
--°C

Presiden Bongbong

Pada 1983 Ninoy memutuskan untuk kembali ke Filipina untuk memimpin pelawanan langsung terhadap Marcos. Teman-temannya sudah mengingatkan akan bahaya yang mengadangnya. Marcos tidak akan segan-segan membunuh Ninoy begitu tiba di Filipina. Ninoy bersikeras untuk tetap pulang.

Benar saja. Begitu pesawatnya berhenti di Bandara Manila, Ninoy dijemput oleh beberapa tentara. Ketika Ninoy menuruni tangga terdengar letusan senjata beberapa kali. Ninoy tersungkur bermandikan darah dan tewas seketika di atas tarmac bandara. Marcos mengklaim pembunuh Ninoy adalah aktivis komunis yang langsung ditembak mati oleh tentara di tempat kejadian perkara.

Rakyat tidak percaya. Kematian Ninoy justru menyulut gerakan rakyat yang makin meluas. Popularitas Ninoy yang sangat tinggi dan pembunuhannya yang brutal membuat rakyat kehilangan rasa takutnya. Demonstrasi menentang Marcos mulai bermunculan secara sporadis.

BACA JUGA  Sengit Layaknya PON, Kecamatan Sidoarjo Juara Umum Akuatik PORKAB 2026

BACA JUGA: Becker, Ozil, dan Beckenbauer

Puncaknya terjadi pada 1986. Rakyat sudah semakin bernyali. Puluhan ribu orang melakukan demonstrasi yang kemudian dikenal sebagai Revolusi EDSA singkatan dari Epifanio de los Santos Avenue, sebuah jalan di Metro Manila yang menjadi pusat demonstrasi.

Pemimpin tertinggi Gereja Katolik Filipina Kardinal Sin merestui dan mendukung gerakan rakyat. Rakyat Filipina yang mayoritas Katolik semakin berani turun ke jalan. Ratusan ribu orang tiap hari memenuhi EDSA untuk melakukan protes damai. Puncaknya terjadi ketika ratusan ribu orang bergerak mengepung Istana Malacanang tempat Marcos dan Imelda bersemayam.

Pemimpin tertinggi militer Jenderal Fidel Ramos melihat situasi yang tidak terkendali dan memutuskan untuk mendukung gerakan rakyat. Marcos harus menghadapi risiko pengadilan rakyat. Ia tidak punya pilihan lain kecuali melarikan diri ke Amerika.

BACA JUGA  Siapa Doni Wijanarko

Sebuah pemerintahan paling brutal dalam sejarah Filipina akhirnya tumbang oleh People Power. Rakyat Filipina–yang masih mengenang Ninoy–akhirnya memilih Corry Aquino sebagai presiden baru. Seorang ibu rumah tangga yang tidak punya pengalaman politik dipilih menjadi presiden karena menjadi simbol perlawanan yang tidak kenal takut selama revolusi.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.