Rahman: “Om saya (Ujang Sarjana) tidak memukul. Cuma cekcok mulut. Lalu mereka (Ardiansah dan Ade Komeng) lapor polisi. Om saya malah ditangkap polisi, ditahan sampai sekarang.”
Dilanjut: “Kami sudah lapor ke kantor Komnas HAM beberapa waktu lalu. Tapi, cuma dicatat petugasnya. Tidak ada apa-apa lagi.”
Cerita Rahman ini tergolong berani. Dengan semangat tinggi, curhat ke Presiden Jokowi. Terbukti dari pernyataan Kapolres Bogor Kota kepada wartawan, kasus ini memang ada. Bukan bohong.
Keberanian Rahman dan Kurniali, lantas membuat mereka takut pulang. Tapi, mereka juga tidak minta perlindungan polisi. Sejak Kamis (21/4) sampai tadi malam, mereka pilih ngumpet di kantor LBH, kuasa hukum Ujang Sarjana.
Lalu, apa tindakan Presiden Jokowi? Apakah cukup dengan ucapan: “Ya… sudah dicatat.”
BACA JUGA: Terbegal Bunuh Begal, Polri Butuh Pendapat
Ternyata tidak. Tidak cukup ‘dicatat’. Wartawan konfirmasi ke Kepala Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden, Bey Triadi Machmudin, Jumat (22/4). Bey mengatakan:
“Kemarin Bapak Presiden langsung meminta Sekretaris Kabinet yang memang tengah mendampingi, untuk mencatat hal yang disampaikan warga. Lalu, Bapak Presiden meminta Kapolda Jawa Barat untuk mencari kejelasan kasus tersebut.”
Kasus yang sangat sepele. Terjadi di banyak pasar di Indonesia. Tahu-tahu ‘melonjak’ ke atas, sampai Presiden RI Jokowi. Dan, Presiden RI sampai menghubungi Kapolda. Untuk urusan sekecil itu.
Semua berkat medsos. Viral. Diketahui khalayak. Dikomentari banyak orang. Juga, respon positif Jokowi. Respon Jokowi seperti itu sudah sangat sering.
Contoh: Kamis, 10 Juni 2021 Presiden Jokowi berdialog dengan belasan sopir truk kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok. Meninjau vaksinasi. Jokowi dicurhati para sopir truk, yang mengaku dipalaki preman pelabuhan.
BACA JUGA: Kebiri Kimia, Hasil Perang Empati vs Egoistik
Seketika itu juga Presiden Jokowi menelepon Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Menugaskan Kapolri agar menyelidiki preman pelabuhan. Seketika itu juga Kapolri koordinasi dengan Kapolda Metro Jaya, Irjen Muhammad Fadil Imran.
Esoknya, tim Polda Metro Jaya turun menyelidik ke Pelabuhan Tanjuk Priok. Terbukti, ada pemalakan. Para preman ditangkapi. Tidak ada lagi pemalakan, saat itu. Sampai beberapa hari kemudian.
Seumpama, Presiden Jokowi blusukan begitu setiap hari. Ke pelabuhan, pasar, toko-toko, warung-warung, gudang barang, pejagalan hewan, dan semua tempat yang kira-kira ada perputaran uang, walau kecil. Mungkin, Jokowi bakal selalu menerima curhatan serupa.
Setelah menerima curhatan, Jokowi biasanya menelepon pejabat Polri, untuk memeriksa dan menyelesaikan. Barulah diselesaikan.
Polri tentu tidak tahu kasus-kasus tersebut, jika tidak ada laporan. Karena saking banyaknya kasus serupa yang terpendam di masyarakat. Terpendam, sebab orang tidak berani melapor.
Rahman dan Kurniali termasuk pemberani. Berani meninggalkan pekerjaan, tidak dagang, dan menginap di kantor LBH. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi