Rabu, 6 Mei 2026, pukul : 01:50 WIB
Surabaya
--°C

Petunjuk dan Nikmatnya Shiratal Mustaqim

Renungan Ramadhan

Oleh Ferry Is Mirza

Sekretaris Dewan Kehormatan PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Jatim

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

KEMPALAN: SETIAP shalat kita membaca surat Al Fatihah yang isinya terkandung permohonan doa kepada Allah Ta’ala agar kita senantiasa diberi hidayah di atas shiratal mustaqim, yaitu tatkala kita membaca firman Allah : “(Yaa Allah). Tunjukilah kami jalan yang lurus (shiratal mustaqim), yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat“
(QS. Al Fatihah :6-7)

Saudaraku, berada di atas shiratal mustaqim sungguh adalah nikmat yang agung bagi seorang hamba.

Nikmat Hidayah Shiratal Mustaqim

Nikmat hidayah shiratal mustaqim (jalan yang lurus) adalah nikmat yang besar bagi seseorang. Nikmat ini hanya Allah berikan kepada orang-orang yang Allah kehendaki. Yang dimaksud hidayah dalam ayat ini mencakup dua makna, yaitu hidayah untuk mendapat petunjuk shiratal mustaqim dan hidayah untuk tetap istiqamah dalam meniti di atas shiratal mustaqim.

BACA JUGA Ada 4 Hamba ALLAH yang Dirindukan Surga

Para ulama ahli tafsir baik dari kalangan sahabat maupun yang hidup sesudahnya telah banyak memberikan penjelasan tentang makna shiratal mustaqim.

Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menjelaskan bahwa ada empat perkataan ulama tentang makna shiratal mustaqim:

Pertama. Maksudnya adalah kitabullah.
Ini merupakan pendapat yang diriwayatkan oleh sahabat ‘Ali dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Kedua. Maknanya adalah agama Islam.
Ini merupakan pendapat Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas, Al Hasan, dan Abul ‘Aliyah rahimahumullah.

Ketiga. Maksudnya adalah jalan petunjuk menuju agama Allah.
Ini merupakan pendapat Abu Shalih dari sahabat Ibnu ‘Abbas dan juga pendapat Mujahid rahimahumullah.

Keempat. Maksudnya adalah jalan (menuju) surga.
Pendapat ini juga dinukil dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.
(lihat Zaadul Masiir)

Syaikh Shalih Fauzan hafidzahullah menjelaskan, “Yang dimaksud dengan shirat (jalan) di sini adalah Islam, Al Qur’an, dan Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ketiganya dinamakan dengan “jalan” karena mengantarkan kepada Allah Ta’ala. Sedangkan al mustaqim maknanya jalan yang tidak bengkok, lurus dan jelas yang tidak akan tersesat orang yang melaluinya”
(Duruus min Al Qur’an 54)

Dapat kita simpulkan dari penjelasan di atas bahwa shiratal mustaqim adalah agama Islam yang sangat jelas dan gamblang, sebagai ilmu yang harus diamalkan berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah, sehingga bisa menjadikan pelakunya masuk ke dalam surga Allah Ta’ala. Jalan inilah yang ditempuh oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya.

Rintangan Meniti Shiratal Mustaqim

Meniti shiratal mustaqim tidak lepas dari berbagai rintangan dan hambatan. Orang yang meniti jalan ini diliputi dengan perkara-perkara yang tidak disukai, diliputi dengan kesusahan dan hal-hal yang memberatkan. Oleh karena itu perlu kesabaran ekstra dalam meniti jalan ini.

Allah Ta’ala berfirman :
“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar”
(QS. Fushilat :35)

Shiratal mustaqim disandarkan kepada Allah, misalnya dalam firmanNya,
“dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus“
(QS. Al An’am :153)

Demikian juga firmanNya,
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus (Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.“
(QS. Asy Syuura :52-53)

Disandarkan kepada Allah karena DIA-lah yang membuat syariat jalan tersebut, menunjukkan kepada jalan tersebut, dan yang menjelaskan kepada manusia tentang jalan tersebut. Penyandaran kepada Allah adalah bentuk pemuliaan serta menunjukkan bahwa jalan tersebut mengantarkan kepada Allah Ta’ala.

Namun terkadang shiratal mustaqim disandarkan kepada kepada orang-orang yang meniti jalan tersebut. Misalnya dalam firman-Nya,
“orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka“
(QS. Al Fatihah :6)

Dalam ayat di atas shiratal mustaqim disandarkan kepada orang-orang yang telah Allah beri nikmat kepada mereka, karena merekalah yang berada diatas jalan tersebut. Berbeda dengan orang-orang yang sesat yang berjalan di atas jalan kesesatan.

Oleh karena itu agar seseorang bisa tetap istiqamah di atas shiratal mustaqim, dia harus senantiasa di atas jalan ilmu dan amal. Mempelajari ilmu agar dia terhindar dari kelompok yang tersesat, serta beramal dengan ilmu yang dimiliki agar dia terhindar dari kolompok yang dimurkai Allah.

Yang lebih penting juga senantiasa berdoa kepada Allah, Zat yang senatiasa memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan taufik dan hidayahNYA kepada kita untuk senantiasa istiqamah di atas jalan shiratal mustaqim. Serta bisa menunaikan ibadah puasa Ramadhan ini hingga bertemu 1 Syawal. Aamiin yaa rabbal alaamiin…

fimdalimunthe55@gmail.com

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.