SURABAYA-KEMPALAN: Pada sebuah pagi tertanggal 16 Maret 2022, proyek saya untuk mengenang George Kahin masih berjalan. Salah satunya dengan menghubungi Barbara Sillars Harvey yang pernah menjadi Konsulat Jenderal AS di Surabaya dan wakil duta besar Amerika Serikat di Indonesia.
Bu Harvey adalah seorang mahasiswi mendiang George Kahin yang meneliti tentang pemberontakan di Sulawesi dengan judul Tradition, Islam, and Rebellion: South Sulawesi 1950-1965. Buku karya Barbara juga diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, yakni Permesta: Pemberontakan Setengah Hati dan Pemberontakan Kahar Muzakkar: Dari Tradisi ke DI/TII.
Dalam surel itu, saya meminta komentar Bu Harvey terkait mendiang Profesor George McTurnan Kahin, yang beliau jawab dengan memberikan sebuah lampiran yang berisikan sebuah apresiasi terhadap pendiri Cornell’s Modern Indonesia Project itu. Komentarnya didasarkan pada peringatan terhadap tokoh intelektual itu 21 tahun silam, pada 6 Mei 2000.
Menurutnya, banyak orang yang menyayangi Prof Kahin atas upayanya mencari kebenaran dan komitmennya terhadap kebenaran dan keadilan.
“Kebijaksanaannya, (menjadi) standar yang tepat untuk penelitian, bimbingan yang bijaksana, dan kemanusiaan yang mengilhami ribuan mahasiswa,” kenangnya seperti yang termaktub dalam tulisannya yang terlampir di surel pada Rabu (23/3).
Harvey juga menyebutkan, Kahin adalah cendekiawan terkemuka mengenai Asia Tenggara di Amerika Serikat karena ia mendirikan Cornell’s Modern Indonesia Project dan menjadi direktur Program Asia Tenggara dalam jangka waktu yang cukup lama, belum lagi ia adalah pengarang buku-buku yang penting mengenai Indonesia dan Vietnam.
Dua buku George Kahin memang menjadi rujukan utama sejumlah akademisi kajian Asia Tenggara, seperti Nasionalisme dan Revolusi Indonesia dan Intervention: How America Became Involved in Vietnam.
“Profesor Kahin disayangi banyak orang karena dia peduli pada orang sebagai individu, tidak hanya secara abstrak. Hal ini terlihat dari pertemanan yang ia jalin selama melakukan penelitian di Indonesia pada tahun 1940-an yang masih berlaku ketika ia berkunjung ke Indonesia pada tahun 1990-an,” tutur Barbara.
Baginya, Program Asia Tenggara di Universitas Cornell menjadi “komunitas cendekiawan” sejati yang dicirikan oleh rasa saling menghormati dan kerjasama dikarenakan kualitas pribadi George Kahin yang rendah hati ditambah dengan pengetahuannya yang teliti.
Ia juga memberikan sedikit insight mengenai pertemuan pertamanya dengan George Kahin, ialah ketika Barbara masuk dalam perkuliahannya yang menentang keterlibatan AS dalam Perang Vietnam. Kuliah itu dilaksanakan di Washington pada tahun 1965.
Disebutkan juga, dalam diskusi panel itu, Kahin membuat Barbara terkesan karena ketegasannya terhadap fakta, bukan retorika belaka.
Selang 3 tahun kemudian, Bu Harvey mendaftar program doktoral di Departemen Pemerintahan, Universitas Cornell, dan Kahin menjadi ketua panitia disertasinya.
“(Kahin) membimbing penelitian saya tentang pemberontakan Darul Islam di Sulawesi Selatan (1950-1965) dan pemberontakan Permesta di Sulawesi Utara (1957-1961),” ungkap mantan Konjen AS Surabaya ini. (Reza Hikam)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi