Minggu, 31 Mei 2026, pukul : 02:23 WIB
Surabaya
--°C

Tampak Bersaing, Perdana Menteri Tiongkok: Kerjasama AS-China Untungkan Kedua Negara

BEIJING-KEMPALAN: Amerika Serikat (AS) dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT/China/Tiongkok) dianggap selalu bersaing dalam hal ekonomi pada abad ke-21. RRT sendiri muncul sebagai kekuatan pesaing bagi negara adidaya itu semenjak reformasi ekonomi yang dibawa Deng Xiaoping.

Dengan sumber daya yang besar, China berhasil muncul sebagai pemain baru yang sukses dalam panggung perekonomian dunia. Walaupun sempat dilanda wabah Corona, namun nampaknya Tiongkok sudah mulai bangkit lagi dalam permainan dan tetap bekerja sama dengan AS walaupun ketika AS dipimpin Trump, hubungan keduanya sempat memanas karena ujaran yang disampaikan presiden itu.

Melansir Xinhua, Perdana Menteri RRT Li Keqiang mengatakan pada Jumat (11/3), kerjasama AS-China menguntungkan kedua belah pihak juga dunia dan diperlukan lebih banyak dialog dan komunikasi di antara keduanya.

Hal ini ia sampaikan pada kesimpulan dari sesi legislatif nasional tahunan Tiongkok, yang mana ia mengutarakan bahwa hubungan tersebut memakmurkan penduduk dari kedua negara seraya menambahkan, baik China maupun Amerika adalah anggota permanen dari Dewan Keamanan PBB.

Li mengatakan, kedua negara adalah negara berkembang dan negara maju terbesar di dunia, banyak tantangan yang membutuhkan kerjasama dan upaya bersama untuk kedua negara, yang mana 50 tahun yang lalu, kedua negara mulai membangun hubungan bilateral yang normal.

BACA JUGA  Iduladha 1447 H: Unesa Putar Balik Tradisi Kurban, Prioritas Mutlak Wong Cilik dan Mahasiswa Rantau

Walaupun ada pasang-surutnya, hubungan AS-Tiongkok selalu berkembang dalam setengah abad terakhir. China sendiri berharap bahwa kedua negara dapat bertindak dengan kesepahaman yang dicapai dalam pertemuan virtual di antara kedua presidennya pada akhir tahun lalu, saling menghormati kepentingan dan kepedulian satu sama lain, hidup dengan damai, dan mencapai kerja sama yang saling menguntungkan.

Sang perdana menteri juga berujar bahwa pintu di antara keduanya sudah dibuka dan jangan sampai ditutup kembali.

“Kerjasama seharusnya menjadi arusutama karena perdamaian dan pembangunan dunia berlandaskan pada kerjasama,” ujar Li seperti yang dikutip Kempalan dari Xinhua. Ia turut menambahkan, jika ada kompetisi pasar di antara AS dan Tiongkok dalam perekonomian dan perdagangan, hal itu harus dilakukan dengan sehat dan adil.

Ia merujuk pada kerjasama AS-RRT di wilayah yang ekstensif dan potensi yang masih belum terungkap, dan jika AS memilih untuk mengurangi pembatasan ekspornya untuk China, maka volume perdagangan dari kedua negara akan semakin bersar dan maka dari itu semakin menguntungkan kedua negara beserta penduduknya.

BACA JUGA  Persi Jatim Ajak Tenaga Kesehatan Berkreasi dalam Lomba Bola Voli Mix dan Vokal Group

Li juga mengatakan, jika kebijakan pintu terbuka ala China tidak akan berubah, walaupun lingkungan internasional berubah.

“Jika ada perubahan, perubahan akan kondusif untuk keterbukaan yang semakin besar dari pertukaran, perdagangan, dan investasi di Tiongkok,” tuturnya seraya menambahkan bahwa apapun yang kondusif terhadap keterbukaan yang semakin besar, negaranya akan mengejarnya.

Perekonomian Tiongkok sendiri sudah sangat terintegrasi dengan dunia, ekspor dan impor barangnya berkontribusi lebih dari 1/3 dari PDB-nya dan tetap menjadi negara pengimpor terbesar kedua selama 10 tahun berturut-turut. Bahkan RRT telah menjadi negara perdagangan barang terbesar di dunia selama 5 tahun terakhir.

Setelah 40 tahun upaya membuka diri yang membawa keuntungan bagi China dan dunia, ia menggambarkan kebijakan tersebut sebagai “pintu kesempatan”, yang mana negaranya tidak akan dan tidak boleh menutupnya. (Xinhua, Reza Hikam)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.