Jumat, 8 Mei 2026, pukul : 07:17 WIB
Surabaya
--°C

The Batman, Review Bebas Spoiler

SURABAYA-KEMPALAN: The Batman bukanlah kisah asal muasal superhero seperti halnya Batman Begins milik Christopher Nolan atau Iron Man milik John Favreau. Penonton yang sudah kenal dengan asal muasal Batman akan senang film ini tidak menghabiskan waktu menjelaskan cerita itu lagi.

Film ini berlangsung di tahun kedua Bruce Wayne menjadi Batman. Nama Batman telah menghantu di benak semua kriminal Gotham, dan Jim Gordon sudah bekerjasama dengan Batman.

Namun bukan berarti perjalanan Batman sudah tamat. Batman di film ini belum mencapai masa primanya. Mayoritas waktu dihabiskan dengan Batman daripada Bruce Wayne, karena obsesinya dalam balas dendam. Ia belum bisa menjaga persona miliarder sehari-hari Bruce Wayne dan juga persona vigilante Batman-nya.

Robert Pattinson memerankan Batman muda ini dengan sempurna. Robert Pattinson sering mendapat stigma karena perannya di Twillight sebagai Edward Cullen. Stigma itu membenak di bayangan moviegoers sejak tayangnya film itu di tahun 2008, layaknya nama Justin Bieber di dunia pop tahun 2010.

BACA JUGA: Di Rusia, Film-Film Hollywood Ditunda Sementara

Namun, pecinta film akan mengenal kualitas akting Robert Pattinson dari perannya di film selain Twillight, seperti Good Time, The King, dan the Lighthouse yang menominasikannya penghargaan Best Actor dan Best Male Lead.

Sutradara Matt Reeves ingin sebuah cerita detektif Batman daripada mengandalkan aksi. Pilihan yang patut, melihat sejarah Batman dimulai sejak DC masih dikenal sebagai Detective Comics. Batman sebagai detektif terhebat di dunia adalah sisi Batman yang sudah lama tidak direpresentasikan oleh Batman milik Ben Affleck yang tampil di Batman V Superman dan Justice League.

Sebagai kisah detektif, The Riddler menjadi supervillain yang tepat untuk Batman. Dimainkan oleh Paul Dano, Riddler yang ini berbeda dengan versi komiknya atau yang diperankan oleh Jim Carrey di Batman Forever yang konyol dan eksentrik. The Riddler milik Paul Dano lebih suram. Sutradara Matt Reeves akui ia menarik inspirasi dari Zodiac Killer, pembunuh berantai yang mengguncang Amerika di tahun 1960. Paul Dano menangkap pesona psikopat itu dengan tepat, lengkap dengan penampilan yang sangat tidak mengancam.

BACA JUGA: Ini Rapor Film Indonesia di Masa Pandemi

Bisa dibilang kota Gotham adalah sebuah karakter tersendiri. Gotham bukanlah kota background yang ada agar para Superhero dan Supervillain dapat bertempur dan hancurkan. Kota Gotham kaya dengan sejarah, politik, dan konspirasinya sendiri. Gotham benar-benar terasa seperti kota yang hidup, yang korup, yang kotor dan kumuh.

Film ini tidak bebas dari kelemahan, yang mayoritas tergantung selera. Untuk penggemar film superhero Marvel, The Batman yang gaya ceritanya lebih lambat ditambah rentang waktu 3 jam mungkin terasa membosankan.

Jangan terkecoh dengan rating PG-13. Meski begitu, film ini lebih suram dan gelap daripada film superhero pada umumnya, terutama Marvel.

Pertempuran otak antara the Riddler dan Batman merupakan highlight film ini. Teka-teki the Riddler dirakit dengan sangat cerdas dan puitis. Sayangnya, kualitas puitis itu pudar ketika diartikan ke Bahasa Indonesia. Contohnya teka-teki yang menggunakan Polisemi. Memang inti dari teka-teki tidak akan hilang, namun keindahannya akan terlewatkan. (Jericho Fikri)

Editor: DAD

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.