Seperti yang dialami Roy Krisno Atmojo, pelaku usaha asal Surabaya yang berprofesi sebagai operator alat berat di dunia usaha konstruksi dan bangunan, salah satu peserta “pengelolaan Keuangan Digital” DEA BPSDMP Surabaya Kementerian Kominfo RI.
BACA JUGA: Stikosa-AWS Dapat Hibah Peralatan Digital V-Con dan Drone Canggih
“Selain saya sebagai Operator Alat Berat, saya juga punya usaha supplier bahan bangunan dan selama 5 tahun ini saya menggunakan medsos (media sosial) untuk pemasaran. Saya mengikuti pelatihan ini selain ingin mendalami pemasaran digital yang dipaparkan oleh pemateri, saya juga membutuhkan bagaimana cara mengelola usaha saya. Kalau saya hanya mengejar pemasaran konvensional, ya penghasilan saya hanya segitu-gitu aja, tapi kalau saya memanfaatkan media digital tentu saya dapat mengoptimalkan hasil penjualan dan omzet saya, dengan saya manajemen pengelolaan keuangan digital agar usaha saya makin berkembang,” tutur pengakuan Roy Krisno Atmojo yang akrab dipanggil Roy.
“Apa yang disampaikan pemateri memang benar-benar yang saya alami. Selama mengikuti pelatihan ini, ada beberapa teknik yang salah saya lakukan dan belum pernah saya lakukan, terutama terkait pengelolaan keuangan digital,” ujar Roy.
Hal yang serupa dialami oleh Andreas Eko Moeljanto asal Surabaya, yang akrab dipanggil Leo, berprofesi sebagai relawan kebencanaan, salah satu peserta lainnya “Pengelolaan Keuangan Digital” program pelatihan DEA BPSDMP Kementerian Kominfo RI.
BACA JUGA: Latih Eks Buruh Migran Bangun Wirausaha Lewat Media Digital
“Memang sebagai relawan adalah jiwa kita, tapi urusan mencari penghidupan sehari-hari kita dituntut bekerja atau berwira usaha. Relawan saat kebencanaan saya katakana kita buka tabungan (amal), tapi di saat tidak ada bencana, ya kita menabung dari hasil pekerjaan atau usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Hubungannya apa antara kebencanaan dengan pelatihan marketing dan keuangan digital ini, karena saya punya banyak kawan dan relasi yang dapat menunjang pemasaran bisnis saya,” ungkap Leo.
“Saya buka usaha di bisnis kue kering dan kue basah, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Saya juga melakukan pemasaran lewat media digital yaitu medsos, tapi masih belum maksimal berhasil. Sebelum saya mengikuti pelatihan ini, ada beberapa yang saya lakukan selama ini ada yang keliru. Kelirunya, saya memulai usaha menggunakan akun–akun medsos pribadi. Dan di pelatihan ini disarankan menggunakan medsos khusus bisnis dan sebaiknya tidak mencampuradukkan kepentingan pribadi dengan kepentingan usaha di medsos, mulai dari postingan– postingan konten mulai dari produksi sampai hasil produksi, hingga melayani menjawab pertanyaan– pertanyaan yang ada, ungkap pengakuan Leo.
BACA JUGA: Bangun Desa Digital Indonesia, Tiga Satelit Satria Diluncurkan hingga 2024
Tidak jauh berbeda dengan yang dialami Nerlenawati, asal Rungkut Surabaya, peserta pelatihan pelaku bisnis selain sebagai reseller dan dropshipper di bidang healthy food. Juga pebisnis kuliner dengan nama Bomebroth.
Lena, panggilan akrab Nerlenawati, mengaku selama menjalankan usahanya selama ini memang memanfaatkan media digital terkait dengan pengadaan barang dan pemasarannya, dan sudah sering mengikuti pelatihan pemasaran digital. Namun baru kali mengaku mengikuti pelatihan pengelolaan keuangan digital yang diselenggarakan di kampus Stikosa-AWS.
“Ya baru kali ini kalua saya mengikuti pelatihan pengelolaan keuangan digital, dan saya sangat butuh pelatihan ini, terutama untuk pengelolaan keuangan usaha saya sendiri usaha Bomebroth itu, selain sebagai reseller dan dropshipper. Dan saya ikut pelatihan ini selain menambah teman, juga menambah relasi bisnis di dunia digital,” ungkap pengakuan Lena. (*)
Editor: DAD

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi