Foer mengungkapkan kegagalan globalisasi dalam mengikis budaya tribalisme dan primordialisme yang mewarnai persaingan dalam sepakbola. Hal itu terlihat dari kisah holiganisme di berbagai penjuru dunia. Foer juga membahas fenomena ekonomi dan sepak bola. Maraknya korupsi di dunia ketiga, arus migran di negara Eropa, dan bangkitnya oligarki baru seperti Silvio Berlusconi di Italia.
BACA JUGA: Jurnalisme Tuyul
Foer juga menyoroti bagaimana sepakbola dipergunakan untuk membela nasionalisme dalam kasus sepak bola Spanyol yang melahirkan El-Clasico Barcelona vs Real Madrid. Foer menyaksikan bagaimana rivalitas di luar nalar yang tercipta antara dua tim musuh bebuyutan asal ibukota Skotlandia, Glasgow: Celtic dan Rangers yang selalu melahirkan Derby Old Firm seperti perang.
Foer juga mengungkap udang di balik batu. Ketika sepak bola menjadi industri maka kebencian rasial dan agama bisa dijadikan uang. Derby El Clasico dan Old Firm menjadi bisnis besar yang menghasilkan uang besar. Kebencian dan persaingan diuangkan dengan menjual sponsorship kepada perusahaan multinasional, dan menjual berbagai Pernik seperti jersey dan gantungan kunci kepada suporter.
BACA JUGA: Jurnalisme Tuyul
Rivalitas dan kebencian sengaja dirawat karena dari situ keuntungan bisa dikeruk. Persaingan keras di antara suporter garis keras ultras di kedua pihak sengaja dilestarikan, bukan sekadar demi rivalitas, melainkan untuk meraup profit.
Globalisasi yang mengkontaminasi sepakbola juga membuka ruang bagi kaum oportunis untuk menjadikannya alat efektif demi mencapai kepentingan politik. Berlusconi mendirikan partai politik Forza Italia dengan basis suporter AC Milan, dan berhasil menjadi perdana menteri pada 2001.
BACA JUGA: Oki dan KDRT
Franklin Foer menelusuri keterlibatan para pelaku kejahatan kemanusiaan dalam konflik Serbia-Bosnia yang menjadi pendukung klub raksasa Serbia, Red Star Belgrade. Ia juga menyusuri rasisme sepakbola di Ukraina, serta fakta sejarah Zionisme yang bersinggungan dengan sepak bola. Klub-klub besar yang berasosiasi dengan Yahudi adalah Ayax Amsterdam yang dimiliki oleh komunitas Yahudi, dan Tottenham Hotspur di Inggris yang dimiliki oleh pengusaha Yahudi, Daniel Levy.
Serbuan Rusia ke Ukraina akan membuat posisi Roman Abramovich dan Andriy Shevchenko serba salah. Keduanya bersahabat akrab, tapi dalam politik keduanya berseberangan. Shevchenko menjadi pelatih Ukraina yang membuat sejarah dengan lolos ke perempat final turnamen Euro 2020, sebelum dihentikan oleh tim Inggris. Prestasi Ukraina lebih baik dari Rusia.
Semasa masih menjadi pemain, Shevchenko rela pindah dari AC Milan ke Chelsea demi Abramovich. Tapi, di Chelsea Shevchenko seperti terkutuk dan menjadi flop. Mungkin, uang panas Abramovich yang membuat Shevchenko gagal bersinar. (*)
Editor: Freddy Mutiara

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi