Selanjutnya Gus Mus mengritik timing dan positioning Ulil dalam menulis gagasan itu. Artikel itu dimuat di Harian Kompas yang nota bene adalah media yang dikelola kelompok Katolik. Artikel itu juga ditayangkan pada Bulan Ramadhan ketika semangat keagamaan umat Islam sedang berada pada puncaknya.
BACA JUGA: Bodoh
Gus Mus menyindir menantunya dengan mengutip ‘’mahfudzat’’ atau peribahasa Arab, ‘’Kaifa yastaqimu al-dhillu wal ‘udu aw’aj’’, yang kurang lebih artinya, ‘’Bagaimana bayangan bisa lurus kalau tongkatnya bengkok’’. Gus Mus menyindir bahwa seharusnya Ulil meluruskan tongkatnya sebelum memperbaiki bayangannya. Yang dimaksud Gus Mus adalah Ulil harus memperbaiki kualitas pribadinya supaya bisa memunculkan bayangan yang lurus.
Ulil menjadi aktivis Islam liberal yang paling vokal selama beberapa tahun. Tapi, kemudian Ulil pelan-pelan mulai ‘’memperbaiki tongkatnya’’ dan mulai lebih sejuk dalam menyampaikan gagasan-gagasan pembaruannya. Sekarang, Ulil lebih dikenal sebagai sufi yang dengan tekun mengajarkan kitab ‘’Ihya’ Ulumuddin’’ karya Imam Al-Ghazali.
Hal itu menjadi simbolisme perjalanan intelektual Ulil. Setelah menempuh jalan yang penuh badai Ulil akhirnya memilih jalan tasawuf yang lebih tenang dana adem. Jalan yang sama ditempuh oleh Imam Al-Ghazali.
BACA JUGA: Jurnalisme Tuyul
Yaqut dan Ulil lahir dari satu petarangan tradisi yang sama, meski jalur yang ditapaki berbeda. Ulil menempuh jalur intelektual, Yaqut menempuh jalur politik praktis. Ulil tidak pernah sepi dari kontroversi pada eranya. Tapi kemudian Ulil menjadi lebih adem setelah lebih dewasa. Yaqut pun kelihatannya demikian. Karir politiknya tidak pernah sepi dan kontroversi, dan dia terlihat tidak takut menghadapinya.
Seperti halnya Ulil, ada masanya nanti ketika Yaqut akan menjadi lebih matang dan adem, dan tidak akan banyak menggongong dan menyalak lagi. (*)
Editor: Freddy Mutiara

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi