Fenomena ini bisa dimaknai sebagian analis bentuk satire politik atau ekspresi sosial unik di ruang digital, dari seorang mantan Presiden pemilik uang yang banyak, entah dari mana asalnya.
Oleh: Sutoyo Abadi
KEMPALAN: Tampaknya Joko Widodo sedang menikmati “Tembok Ratapan” yang viral di Google Maps merujuk pada rumah pribadi Presiden ke-7 RI Jokowi, di Solo atau Surakarta.
Sebagai hiburan harian dari himpitan berbagai masalah yang terus menimpa diri dan keluarganya.Tembok ratapan sekedar menghibur diri menarik teman tanpa diundang sekaligus membuang uang recehan yang terlalu banyak sebagai sampah dirumahnya.
Bagi rakyat yang saling berinteraksi antar mereka karena himpitan ekonomi, tentu Jokowi jelas sebagai dewa penolong karena meratap di tempat itu riil jalan pintas untuk mendapatkan recehan sekalipun tidak seberapa dan harus mau menunggu berjam-jam tanpa kepastian.
“Tembok Ratapan Solo” muncul secara viral di Google Maps pada pertengahan Februari 2026 akibat keisengan warganet (digital editing) yang terinspirasi dari video warga yang berpose meratap di depan pagar rumah tersebut.
Sebagai lenanda tembok ratapan tersebut sudah dihapus oleh Google. Karena lokasi tersebut adalah sebagai kediaman pribadi bukan monomen untuk meratap, kadang muncul dengan nama lain seperti “Monumen Manusia Sinting” akut akibat suntingan lanjutan warganet.
Ajudan Jokowi, AKBP Syarif Fitriansyah, bingung sendiri, telah terus-menerus memberi tahu, bahwa rumah itu adalah hunian pribadi keluarga, bukan tempat ratapan atau monumen mencari berkah dari masyarakat yang sakit atau sinting.
Jadi, tidak ada tembok fisik ratapan, ini murni fenomena viral digital yang menjadikan tagar rumah Jokowi di Solo sebagai “Tembok Ratapan” versi lokal, esensinya hanya sebagai spekulasi untuk mendapatkan selembar kertas uang recehan kalau sedang beruntung.
Fenomena “Tembok Ratapan Solo” yang viral sejak Februari 2026 itu memang ramai didatangi warga dengan bertingkah minta berkah dari demit penjaga di depan pagar rumah mantan Presiden Joko Widodo di Jalan Kutai Utara, Kelurahan Sumber, Banjarsari, Solo
Maka rumah kediaman Jokowi di Solo mendadak diberi label “Tembok Ratapan Solo” di Google Maps oleh warganet. Jadi bukan dari meniru tradisi umat Yahudi yang berdoa dan meratap di Tembok Ratapan (Western Wall) di Yerusalem
Banyak pengunjung, termasuk rombongan dari luar kota, datang untuk menggelar tahlilan, berdoa, dan bahkan ada yang beraksi seolah sedang “meratap”, jelas bukan sedang meminta keberkahan di depan gerbang rumah tersebut, tetapi sekedar berharap ada pemberitaan angpao.
Fenomena ini bisa dimaknai sebagian analis bentuk satire politik atau ekspresi sosial unik di ruang digital, dari seorang mantan Presiden pemilik uang yang banyak, entah dari mana asalnya.
Fenomena ini lebih tepat dilihat sebagai tren media sosial dari manusia yang melekat predikat sebagai penjual kedaulatan negara, dipersepsikan memiliki kekayaan yang yang berlimpah – menjadi sasaran spekulasi bagi mereka untuk mengais rejeki.
*) Sutoyo Abadi, Koordinator Kajian Politik Merah Putih

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi