TRAWAS-KEMPALAN: Pusat Pembibitan Anggrek UBAYA (PPAU) Fakultas Teknobiologi pada tahun 2020 dan 2021 lalu sudah memperoleh kucuran dana hibah pengabdian masyarakat masing-masing sebesar Rp197 juta dan Rp 197 juta dari Kemendikbud Ristek. Hibah itu diperoleh melalui skim pendanaan multi-tahun Program Pengembangan Unit Produk Intelektual Kampus (PPUPIK) Direktorat Riset, Teknologi dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DRTPM) Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi Kemendikbud Ristek.
Tahun 2022 ini hibah yang sama kembali diraih oleh PPAU UBAYA. Berarti sudah tiga tahun berturut-turut–yakni 2020, 2021, dan 2022–PPAU UBAYA meraih pendanaan skim PPUPIK dari Kemendikbud Ristek. Sebagaimana diketahui, PPUPIK merupakan skim pendanaan untuk pengembangan unit usaha kampus yang diberikan oleh pemerintah pusat melalui Kemendikbud Ristek.

PPAU UBAYA sendiri, kata Dr.rer.nat. Sulistyo Emantoko D.P., S.Si., M.Si., Ketua Tim PPAU yang doktor dari Postdam University, Jerman, mulai dirintis dengan pembangunan green house berukuran 25×12 meter di Integrated Outdoor Campus UBAYA Trawas pada tahun 2019.
Kampus ini berada di luar Kota Surabaya, di daerah lereng Gunung Penanggungan, Trawas, yang berhawa sejuk. Di dalam bangunan green house seluas 300 meter persegi ini, ribuan bibit anggrek dari berbagai jenis dikembangkan.
Saat itu, ujar pria yang menekuni bidang nutritional science tersebut, green house dibangun setelah mendapatkan pendanaan hibah kompetitif internal dari UBAYA senilai Rp600 juta.
“Intinya, Fakultas Teknobiologi Ubaya ingin supaya bisa memiliki suatu unit yang bisa mendatangkan uang melalui unit bisnis kampus. Nah, ketika ada skema hibah PPUPIK dari Kemendikbud Ristek, saya pun mengajukan hibah pengembangan unit usaha kampus ke pemerintah dan membentuk Pusat Pembibitan Anggrek UBAYA (PPAU). Tahun 2022 ini sudah tiga tahun berturut-turut kita memperoleh hibah,” terang Emantoko yang juga Dekan Fakultas Teknobiologi.
Wakil Dekan Fakultas Teknobiologi Dr. Ir. Popy Hartatie Hardjo, M.Si. menambahkan anggrek yang dikembangkan dan dijual oleh PPAU UBAYA adalah dari jenis dendrobium dan phalaenopsis atau anggrek bulan. “Kami juga menyilangkan sendiri anggrek-anggrek tersebut, sehingga akan menghasilkan anggrek yang berbeda dengan yang ada di toko,” ujar dosen senior yang juga pakar penyilangan tanaman ini.

Selain melalui penyalur dan toko anggrek mulai Malang, Batu, hingga Surabaya, penjualan anggrek juga dilakukan melalui outlet yang ada di kampus UBAYA, market place e-commerce Tokopedia hingga media sosial. “Terus kami kembangkan. Omzet kami sudah tembus puluhan juta rupiah. Pasar anggrek masih luas, mulai dari penghobi anggrek, hotel, kantor-kantor, dan sebagainya. Yang menarik pula omzet penjualan anggrek kami mulai banyak yang secara business to consumer alias penjualan ritel atau eceran dengan penjualan business to business atau organizational selling tetap mendominasi,” papar Popy.
Secara rutin, greenhouse utama PPAU di Integrated Outdoor Campus UBAYA di Trawas mengirimkan bibit anggrek maupun anggrek berbunga ke Handoyo Budi Orchid, Malang dan para distributor serta reseller lainnya. Tujuannya satu: mendistribusikan bibit anggrek ke para distributor anggrek itu.
Handoyo Budi Orchid adalah salah satu distributor anggrek yang menampung bibit anggrek botolan yang ditanam di greenhouse utama Pusat Pembibitan Anggrek UBAYA (PPAU) Trawas dan greenhouse Gedung Teknobiologi, Kampus UBAYA Tenggilis, Surabaya. Beberapa greenhouse PPAU ini berada di bawah pengelolaan Fakultas Teknobiologi UBAYA. “Nilai nominal uang untuk pengiriman bervariasi mulai Rp5 juta hingga belasan juta rupiah per sekali kirim. Dan, itu selalu rutin dikirimkan ke beberapa penyalur anggrek di Jawa Timur. Kita juga ada kontrak penjualan anggrek dengan para penyalur anggrek ini,” pungkas Ida Bagus Made Artadana S.Si., M.Sc, salah seorang anggota tim PPUPIK. (*)
Editor: Freddy Mutiara

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi