Organisasi Komando Jihad disebut-sebut sebagai organisasi jaringan teroris yang bakal melakukan makar terhadap kekuasaan Soeharto. Kenyataannya organisasi itu adalah buatan intelijen yang menyusup ke dalam gerakan para aktivis Islam untuk melakukan penghancuran dari dalam.
Setelah isu Komando Jihad meluas pada 1971 operasi penangkapan besar-besaran pun dilakukan. Siapa saja yang dicurigai sebagai bagian dari gerakan Islam yang kritis akan diringkus dengan berbagai macam rekayasa. H. Ismail Pranoto–terkenal dengan sebutan Hispran–yang dianggap sebagai tokoh sentral Komando Jihad, mempunyai hubungan yang erat dengan intelijen dan Ali Moertopo.
Pola-pola operasi penyusupan semacam ini masih lazim dilakukan sebagai bagian dari operasi intelijen. Tetapi, dibanding dengan era 1970 bentuk gerakan radikal dan terorisme sudah berubah sangat jauh. Pola-pola rekrutmen gerakan radikal sudah jauh lebih canggih dan sistematis. Karena itu, cara-cara pendataan seperti yang dikakukan BNPT maupun polisi sama saja dengan menjaring angin.
BNPT menyebut ada afiliasi orang-orang radikal itu dengan organisasi teror internasional seperti ISIS, Alqaidah, dan semua organisasi sempalan yang banyak bermunculan. Organisasi-organisasi ini melakukan rekrutmen dengan mempergunakan jaringan digital yang canggih dan sudah meninggalkan pola rekrutmen jaringan konvensional.
Dunia digital dan media sosial menjadi wahana sosialisasi gerakan yang efektif dan tidak mudah dipatahkan. Para aktivis jihadis memanfaatkan dan menyusup ke jaringan digital tanpa bisa diendus. Para jihadis memanfaatkan algoritma untuk menyusup ke jejaring Youtube, Facebook, Instagram, dan semua jaringan sosial media lain.
Dengan kecanggihan permainan algoritma para jihadis bisa masuk ke jejaring media sosial dengan aman. Iklan produk-produk transnasional seperti McDonald, KFC, Coca-Cola, Pepsi, dan banyak lainnya bisa muncul dalam video tutorial pembuatan bom dari kelompok ISIS, atau kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan Alqaidah.
Produk-produk transnasional itu juga bisa muncul sebagai iklan pada video-video rekrutmen ISIS. Para pemasang iklan itu membayar mahal kepada Youtube, tetapi mereka tidak bisa menentukan placementnya. Penemptan iklan itu sepenuhnya menjadi kerja algoritma. Di mana pun dan apapun produknya pasti akan dikejar oleh algoritma selama konten itu dilihat atau dilanggani banyak orang.
Banyak yang tidak menyadari hal itu. Banyak yang mengira bahwa konten-konten bermateri tutorial dan workshop teror itu ‘’disponsori’’ oleh produk-produk favorit anak-anak milenial. Dari situlah pola rekrutmen berawal, sampai kemudian anak-anak muda itu tertarik lebih jauh dan mengisi formulir pendaftaran.
Perusahaan Uber dikecam luas di Australia ketika pada 2015 menaikkan tarif berkali-kali lipat ketika terjadi pemboman di Martin Place, Sydney. Pada sebuah siang yang sibuk di salah satu pusat perbelanjaan paling ramai di Austra, sebuah bom meledak di sebuah gerai.
Begitu orang berhamburan melarikan diri mencari selamat, baik dengan lari maupun dengan mobil, menjauhi lokasi ledakan, maka algoritma secara otomatis akan bekerja dan menaikkan tarif taksi online secara otomatis. Semakin banyak langkah kaki dan gerakan mobil menjauh dari titik itu, semaki tinggi tarif Uber saat itu.
Dari insiden ini seharian Uber mendapatkan keuntungan dari tarif yang meroket. Publik dan netizen berang oleh kejadian ini dan menuduh Uber telah mengeksploitasi peristiwa teror itu untuk kepentingan menangguk untung. Uber menjelaskan bahwa pihaknya tidak berdaya mengendalikan kerja algoritma, dan meminta maaf atas kejadian itu dengan memberi kompensasi layanan gratis bagi orang-orang yang kena getok harga mahal.
Perusahaan-perusahaan multinasional itu tidak berdaya menghadapi algoritma, demikian pula para polisi siber yang berpatroli untuk mengecek gerakan para jihadis. Anak-anak milenial itu terlalu canggih untuk bisa dideteksi. Sebuah aplikasi yang populer di kalangan anak-anak SMA bisa menyembunyikan foto-foto dan video porno, termasuk sex chatting, dan menyamarkannya di balik aplikasi mesin hitung.
Ketika guru kelas memeriksa gajet muridnya yang terlihat adalah aplikasi semacam kalkulator. Ketika seorang anak berada di kelas dan memainkan aplikasinya ia terlihat seperti sedang memainkan angka-angka, padahal ia sedang melakukan chatting porno.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi