Gejala ketidakpuasan itu tampaknya kian mengeras. Tapi Lee tetap pada pendiriannya. Dia percaya sistem di Singapura ini akan bertahan 50 atau 100 tahun di lingkungan dunia yang memberikan peluang maksimal melalui globalisasi.
Resep politik dan kapitalisme gaya Lee kini boleh dicatat paling berhasil. Otoritarianisme gaya Singapura, yang disebut Lee sebagai “The Asian Value’’ atau Nilai Asia , kini menjadi virus kapitalisme otoriter, yang banyak ditiru di berbagai belahan dunia.
China di bawah Xi Jinping mengadopsi gaya pemerintahan Lee. Varian kapitalisme-otoritarian itu diterapkan dengan gaya masing-masing oleh Vladimir Putin dan Recep Erdogan di Turki. Negara-negara itu menjadi simpul kekuatan baru dengan menerapkan sistem ekonomi kapitalistik tapi dengan sistem politik yang terkontrol.
Filosof Marxis, Slavoj Zizek menyebut gaya ini sebagai virus yang menular dengan cepat ke berbagai penjuru dunia. Tuntutan derap kemajuan ekonomi yang melanda konsumer di seluruh dunia memberi justifikasi kepada para pemimpin despotik itu untuk mendapatkan legitimasi.
Gaya despotik lama yang otoriter sudah mengalami modifikasi. Para pemimpin despotik baru tetap menerapkan koridor demokrasi formal untuk mendapatkan legitimasinya. Pemilu tetap diselenggarakan secara rutin meskipun pelaksanannya dikontrol dan dikendalikan. Oposisi tetap ada meskipun hanya sekadar pajangan. Media tetap diberi kebebasan tetapi pengaruhnya diperkecil melalui berbagai macam propaganda yang dikendalikan pemerintah.
Godaan untuk menjadi negara makmur tanpa demokrasi menjadi virus yang merebak cepat. Singapura sukses dengan cara itu. Negara menjadi makmur meskipun tidak ada kebebasan demokrasi.
Indonesia pernah menempuh jalan itu di bawah Presiden Soeharto, tapi berakhir tragis. Sekarang ada indikasi yang kuat bahwa Indonesia ingin kembali menempuh jalan itu. (*)
Editor: Freddy Mutiara

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi