Sebelum membaca suatu berita atau artikel internet, warganet sudah memiliki pendapat pribadi yang telah terbentuk dari stereotype-stereotype yang ada tanpa mencari fakta. Berbagai opini itu sudah tertanam dan seakan telah menjadi fakta sehari-hari yang memang benar, padahal belum tentu.
Pengetahuan-pengetahuan yang belum tentu fakta itu telah tertanam dibenak masyarakat melalui berbagai cara. Dapat disebabkan oleh berita palsu (hoax), salah asuhan / didikan, pergaulan yang kurang baik, hingga ke sumber informasi naif dari orang terdekat yang telah di percayai sepenuhnya
Kemudian, berbagai pengetahuan dan stereotype yang telah tertanam pada khalayak itu, ditampilkan kembali pada artikel, postingan sosial media atau bentuk berita lain yang ada di internet. Sehingga, pembaca memiliki keterkaitan emosional terhadap apa yang disampaikan oleh berita yang sebetulnya belum tentu benar tersebut.
Hoax dapat menyebarluas dengan mudah karena kondisi post-truth yang semakin berkembang di era media sosial ini. Hoax akan diakui kebenarannya tanpa pembuktian, karena ikatan emosional banyak orang telah tertuju pada tesis yang sama dan biasanya besifat menghakimi. Saat itu terjadi, maka suatu kebohongan pun telah menjadi argumen yang bahkan mengalahkan fakta objektif.
Terlebih lagi jika fakta yang sebenarnya sangatlah tidak menyenangkan atau membuat masyarakat tidak nyaman. Semakin banyak orang yang tidak menyukai fakta itu, maka akan semakin tidak dipercayai pula kebenaran yang telah dibuktikan tersebut. Seiring dengan ditinggalkannya fakta, kebohongan yang menyenangkan akhirnya akan lebih dipercayai oleh masyarakat luas.
Seseorang juga dapat dengan mudah menjadi kambing hitam karena terjadinya fenomena ini. Sesuatu yang sebetulnya tidak benar terpaksa diangkat menjadi patokan kebenaran karena tekanan publik yang mengiyakan kesalahan tersebut.
Banyak yang telah menjadi korban scapegoat seperti ini. Ucapan Giring dianggap provokatif untuk mencari panggung politik dengan mengeksploitasi kebencian terhadap figur tertentu, dalam hal ini Anies Baswedan.
Serangan itu kemudian diamplifikasi melalui media sosial sebagai upaya panjat sosial alias pansos. Sebagai partai gurem yang hanya punya elektabilitas nol koma di setiap survei, PSI harus menciptakan common enemy untuk melakukan pansos.
PSI melakukan perburuan penyihir, witch hunt, dan menjadikan Anies sebagai sasaran. Media sosial hari ini menjadi media baru bagi perburuan penyihir. Warganet dapat mengarak seseorang dan menghakiminya karena dianggap telah melakukan hal negatifyang sebetulnya tidak ia lakukan, tapi sudah telanjur menjadi kesalahan yang dibenarkan.
Para politisi, amatir maupun profesional, dengan sadar memilih untuk berada di atas kebenaran dengan mengorbankan etika dan akhlak. Berbohong dilakukan atas nama post-truth, dan menyerang lawan dengan cara babi buta, dilakukan atas nama post-truth. (*)
Editor: Freddy Mutiara

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi