Label pembohong lebih banyak ditempelkan kepada Jokowi daripada kepada Anies. Proyek mobil Esemka menjadi monumen kebohongan yang dilekatkan kepada Jokowi. Klaim mengenai uang triliunan di kantong juga menjadi guyonan yang diasosiasikan dengan kebohongan Jokowi. Majalah inernasional ‘’The Economist’’ menyoroti kebohongan Jokowi yang mengatakan tidak akan mewariskan kekuasaan politik kepada anak-anaknya.
Kebohongan bukan kebohongan kalau dilakukan oleh pemilik kekuasaan. Kebohongan disamarkan atau malah dilenyapkan dan diubah menjadi ‘’post truth’’, pasca-kebenaran.
Zaman kita sekarang inilah yang disebut sebagai era post-truth, pasca-kebenaran.
Ada juga yang menyebut zaman sekarang post-fact atau alternative facts. Tidak ada kebohongan, yang ada adalah pasca-kebenaran. Tidak ada bohong, yang ada pasca-fakta. Tidak ada penipuan, yang ada fakta alternatif.
Itulah tesis utama yang diajukan Tom Phillpis dalam buku ‘’Truth: A Brief History of Total Bullshit’’ (2019). Orang bisa berbohong secara telanjang, tapi tetap dianggap melakukan kebenaran, dan malah bisa menjadi orang terkenal, sangat dihormati, dan dianggap sebagai pahlawan dan bapak bangsa.
Zaman sekarang orang bisa berbohong dengan enteng dan tidak ada rasa berdosa sama sekali. Itulah yang disebut sebagai post-truth. Orang awam tidak ingin mendengarkan kebenaran, tapi ingin mendengar apa yang ingin mereka dengarkan meskipun itu bohong. Karena itu masyarakat awam semacam ini suka mendengar kebohongan, bahkan ketika mereka tahu bahwa mereka dibohongi.
Kalau zaman sekarang disebut sebagai post-truth apakah sebelumnya kita hidup di zaman ‘’truth’’, zaman yang penuh dengan kebenaran? Ternyata tidak juga. Zaman sebelum post-truth juga penuh dengan kebohongan, tetapi kebohongan itu tetap menjadi kebohongan. Beda dengan era post-truth ketika kebohongan bukan lagi sebuah kebohongan.
Sebagaimana pos-modernisme, pos-strukturalisme, dan sederet istilah “pos” lainnya, konsep post-truth berkonsekuensi pada anggapan bahwa pernah ada era truth. Bahwa kebenaran pernah mendominasi kepercayaan dan pembuatan keputusan di masyarakat.
Dalam praktiknya, kebohongan dan manipulasi telah mendominasi kepercayaan dan diskursus politik sejak awal peradaban manusia. Pada Republik Romawi Kuno, misalnya, orasi-orasi populis dalam senat lebih mementingkan kelincahan retorika daripada ketepatan data. Bahkan di era modern, hoaks dan sentimen telah menjadi bahan bakar konflik terbesar sepanjang sejarah seperti yang dilakukan Nazi dengan berbagai propagandanya dalam Perang Dunia Kedua.
Sejak zaman Romawi sampai zaman Nazi dan berlanjut sampai era Jokoei sekarang era “kebenaran” bisa dibilang tidak pernah ada. Prasangka, emosi, dan kepercayaan sejak dulu lebih mudah mendominasi pendapat publik daripada rasio.
Oxford Dictionaries, salah satu kamus online terkemuka di dunia yang dibuat oleh Universitas Oxford, telah memilih ‘post-truth’ sebagai ‘Word of the Year’ atau ‘Istilah Tahun Ini’ pada 2016. Menurut Oxford Dictionaries, post-truth diartikan sebagai ‘’istilah yang mewakili situasi-situasi dimana keyakinan dan perasaan pribadi lebih berpengaruh dalam pembentukan opini publik dibanding fakta-fakta yang obyektif.
Post truth adalah kondisi ketika fakta objektif tidak lagi memberikan pengaruh besar dalam membentuk opini publik, justru malah keyakinan pribadi dan ketertkaitan emosional yang mendapatkan dukungan terbanyak dari masyarakat. Secara literat, paska kebenaran adalah “setelah kebenaran” yang berarti kebenaran sudah ditinggalkan. Lalu bagaimana kisahnya hingga kebenaran ditinggalkan dan digantikan oleh opini yang tidak harus benar, asalkan banyak yang setuju dan sesuai dengan keyakinan pribadi kita.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi