Begitulah, karena kita dipenuhi ego dan tak mau jujur menyadari dan mengakui kekurangan diri. Jika kita ingin cari dan temukan kesempurnaan, tak akan kita temukan pada siapapun, juga pada diri kita, niscaya kita akan sendirian di atas perahu, terapung sepi di tengah lautan kehidupan.
Maka bahagia itu tak selalu menemukan apapun seperti yang kita inginkan, bahagia itu jika kita mampu terus mensyukuri karunia-NYA, bersabar pada apa yang tak seperti diharapkan.
Tetangga yang cerewet, sahabat yang selalu mengkritik, pasangan hidup yang belum sepenuhnya memahami, anak yang kadang bandel dan kondisi ekonomi yang belum mapan, semuanya cuma mendung, sekejap berganti hujan dan in syaa Allah pelangi sesudahnya.
Rasulullah Shallallah Alaihi Wassalam bersama Keluarga dan Sahabat-sahabatnya adalah suri teladan dan kurun terbaik.Mengapa?Mereka semua telah meraih kebahagiaan , karena sukses memperoleh keridhoan-NYA.
Mereka tak berharap pujian manusia, apalagi jika untuk itu akan mendapat murka Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ridho Allah adalah cita, harapan dan tujuan awal dan akhir, sehingga sejak awal perjuangan menafikan apapun tentang cacian, umpatan, hinaan dan bahkan fitnah sekalipun.
Bahkan yang menjadi tugas utama mereka justru untuk membersihkan masyarakat dari perilaku yang kotor dan menjijikkan, dengan memulai dari diri dan keluarganya.
Meninggalkan arena perjuangan dalam berinteraksi sosial semata karena tak menemukan kondisi ideal, bukan karakter Leader sejati, bukankah telah ada kisah-kisah teladan di Al Qur’an.
Maka bukan tugas orang lain membahagiakan kita, tetapi sebagai Khoirun Naas (sebaik-baik manusia), in syaa Allah kita pasti mampu membahagiakan orang lain.
Kebahagiaan itu kita ciptakan dengan ketulusan, karena begitulah Dien ini mengamanatkan, begitulah Islam dinisbatkan sebagai Fitrah.
Orang boleh tak menyukai kita, tetapi tentang haruskah kita tak menyukai mereka, tak ada siapa pun yang berhak mendikte apalagi memaksa kita.
Kita mesti menyadari sepenuhnya, apa yang kita suka dan tidak suka amatlah relatif dan belum tentu jadi yang terbaik buat kehidupan kita, seperti kutipan firman Allah dalam Surat Al Baqarah ayat 216:
…وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
“….tetapi boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu…”
In syaa Allah kebahagiaan selalu menyertai kita.
اللهم حبب إلينا الإيمان وزينه في قلوبنا وكره إلينا الكفر و الفسوق والعصيان واجعلنا من الراشدين
“Ya Allah, berilah rasa cinta kepada kami akan keimanan dan hiasilah keimanan di hati kami, dan berilah rasa benci kepada kami akan kekafiran, kefasikan dan kemaksiatan, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang lurus (mendapatkan bimbingan Allah).”
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi