
Catatan Ekonomi Bambang Budiarto
KEMPALAN: Memenangkan sebuah persaingan adalah salah satu strategi untuk dapat mempertahankan hidup. Dalam pemikiran Eli Heckscher dan Bertil Ohlin (H-O) ternyata pemahamannya dibelokkan pada masalah memenangkan persaingan dalam perdagangan. Lebih tepatnya perdagangan antar negara atau perdagangan internasional.
Namun sekarang, cerita ini juga berliku-liku menyasar perdagangan antar daerah. Dua pemikir ekonomi yang sebenarnya adalah guru dan murid ini mengungkapkan pemahamannya berdasar kajian ekonomi ekonom sebelumnnya, David Ricardo bersama comparative advantage-nya. Dengan bahasa lebih mudah disertai berbagai asumsi sebagai pembenar dikatakan bahwa untuk memenangkan persaingan (baca: perdagangan), suatu negara harus mempunyai endowment factor.
Faktor yang benar-benar asli yang dimiliki negara tersebut dalam jumlah yang melimpah, yang secara gratis sudah disediakan oleh alam negara tersebut. Pendek kata karena nasib-lah negara tersebut menjadi kaya yang disebabkan oleh keberadaan endowment factor di negara tersebut dari bumi, tanah, laut, dan alamnya. Minyak, gas bumi, kualitas tanah, dan lain-lain yang ada di dalam perut bumi negara tersebut boleh disebut sebagai contohnya.
Banyak sudah negara di dunia yang dapat disebut kaya karena endowment factor. Beberapa negara di Timur Tengah adalah sebagian contohnya, yang cukup nyaman menikmati endowment factor sebagai bekal mempertahankan hidup, disaat negara-negara lain sedang terengah-engah berjibaku sekedar untuk mempertahankan level pendapatannya. Takdir ?, silahkan kalau ingin menyebut demikian.
Konsep dasar inilah sepertinya yang mendasari lepasnya Timor Leste (TL) lepas dari pangkuan Ibu Pertiwi saat referendum Agustus 1999. TL memilih untuk memisahkan diri. Apakah penduduk Timor Timur (nama TL saat masih menjadi bagian RI) terlalu serius memahami dan menjadi pengikut pemikiran H-O ini? Bisa jadi.
Yang pasti tentu banyak juga pertimbangan faktor-faktor non-ekonomi yang melatarbelakanginya, termasuk sejarah panjangnya. Semua ini adalah cerita lama, sekalipun sudah dipisahkan secara geografis oleh batas-batas hukum wilayah antar negara, namun masih banyak warga dua negara ini yang bersaudara.
Sekarang setelah 22 tahun terpisah, kondisi ke-ekonomian TL ternyata belum juga berada pada titik yang lebih nyaman dari kondisi sebelum referendum. Diberitakan terbelit hutang, diberitakan kehabisan biaya diplomasi internasional, dikabarkan bangkrut pada masa 7 tahun kedepan, dan yang terkini yang berseliweran di media sosial adalah diberitakan kehabisan sumber daya dan tidak memiliki pengganti.
Salah satu faktor ekonomi yang membuat TL gagah dan yakin memutuskan memisahkan diri dari Indonesia saat itu adalah kepemilikan tambang minyak Bayu-Undan. Inilah endowment factor yang diharapkan menjadi sandaran hidup TL. Namun apa daya, TL mulai merintih. Dari berbagai kajian, tambang minyak ini dikabarkan akan mengering mulai 2022, sementara sampai saat sekarang belum memiliki pengganti. Meski demikian para pengambil keputusan tetap berkeyakinan, apapun yang terjadi tidak akan bergabung dengan RI lagi.
Catatan pentingnya, apapun yang terjadi di TL terkait endowment factor, tentu tidak mudah bagi sebuah negara yang hanya mengandalkan sebuah endowment factor. Brunei Darussalam adalah sebuah contoh, menyadari bahwa suatu saat endowment factornya akan menghilang, seak dini negara kecil ini mulai membangun pariwisata dunia. Begitulah keberadaan endowment factor yang dalam tataran teori memang ada dan mampu membangun ekonomi suatu negara.
Sesuai data UNDP dan Bank Dunia, TL masih berada di urutan 152 dari 162 negara termiskin di dunia, artinya masih sangat banyak hal yang harus dibenahi di negara ini. Pertanyaannya sekarang adalah, ternyata pada pertengahan 2021 Bank Dunia juga mencatat, ekonomi Indonesia setara ekonomi TL. Bagaimana penjelasannya atau bagaimana berkelitnya? Salam. (Bambang Budiarto – Dosen Ubaya, Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya, Redaktur Tamu Kempalan.com)
Editor: Freddy Mutiara

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi