Oleh: Teguh Santoso
KEMPALAN: FACEBOOK resmi mengganti namanya (rebranding?) menjadi META, sebagai langkah awal (yang sesungguhnya sudah dirintis sejak beberapa tahun lalu) dalam mewujudkan fantasi-ambisi-utopia sang pendiri Mark Zuckerberg: metaverse! Sejak saat itu jagad maya maupun jagad nyata heboh, beramai-ramai membincangkan metaverse dari berbagai sudut pandang masing-masing. Sejatinya, heboh metaverse ini mendahului eksistensinya sendiri, karena hingga kini realitas apa, bagaimana, dan seperti apa metaverse masih berada dalam tataran konsep kendati diklaim makin mendekati wujud nyatanya. Pihak Facebook sendiri mendefinisikan metaverse adalah seperangkat ruang virtual yang dapat kita ciptakan dan jelajahi bersama orang lain yang tidak (harus) berada dalam satu ruang fisik yang sama dengan kita. Adapun secara teoritis, metaverse dimaknai sebagai jaringan amat luas dari dunia virtual tiga dimensi yang bekerja secara serentak, real-time, dan persisten serta mendukung kesinambungan identitas, obyek, sejarah, pembayaran, dan hak yang mana dunia tersebut dialami secara serempak oleh sejumlah pengguna yang tidak terbatas ruang dan waktu.
Meta menggambarkan ‘metaverse’ sebagai teknologi yang memungkinkan orang-orang berkumpul dan berkomunikasi dengan memasuki dunia virtual baru, sebuah semesta virtual yang berdampingan dengan semesta riil. Meski begitu, nama baru tidak akan memengaruhi cara Facebook dalam menggunakan atau membagikan data. Struktur perusahaan juga tak berubah. Berbagai aplikasi yang berada dalam payung entitas bisnis induk termasuk Instagram, Messenger, dan WhatsApp juga akan mempertahankan nama mereka. Zuckerberg juga berjanji bahwa metaverse akan memiliki standar privasi, kontrol orang tua, dan transparansi penggunaan data. “Setiap orang yang membangun metaverse harus berfokus membangun secara bertanggung jawab sejak awal,” kata Zuckerberg. “Ini adalah salah satu pelajaran yang saya pelajari selama lima tahun terakhir’’, tambahnya. Tentu, belum lekang oleh waktu, sekira 2018 lalu dunia diributkan oleh bocornya data pengguna Facebook yang mencapai ratusan juta data diantara lebih 3 milyar total pemakainya. Beragam kritik menghujani Facebook yang hingga kini tetap menjadi aplikasi media sosial terbanyak pemakainya.
Permasalahan keamanan data pengguna beserta risiko turunan yang menyertai jelas menjadi tantangan tersendiri dalam pengembangan serta implementasi metaverse ke depannya. Rentang waktu lima tahun sebagaimana dipatok sendiri oleh Zuckerberg guna mewujud-nyatakan metaverse bagi khalayak jelas bukan waktu yang lama bila menilik betapa kompleks persoalan dan risiko keamanan siber yang mesti dihadapi dan ditanggulangi.
Secara bisnis, Meta akan memisahkan bisnis periklanan digital utama dari investasi baru di AR dan VR, hal ini dimaksudkan agar investor dapat melihat biaya dan pendapatan terkait metaverse. Perusahaan juga memperkirakan laba operasional berkurang US$ 10 miliar tahun ini karena investasi di Reality Labs. Meta menunjuk Andrew Bosworth, eksekutif lama yang mengawasi produk AR dan VR Meta sejak 2017, sebagai chief technology officer (CTO) mulai awal 2022 mendatang. Salah satu aplikasi metaverse yang akan dikembangkan oleh Facebook yakni konser 3D atau tiga dimensi. “Anda akan merasa hadir dengan orang lain, seolah-olah berada di tempat lain, di tempat penyelenggaraan konser tersebut serta memiliki pengalaman berbeda yang tidak dapat dilakukan di aplikasi atau halaman web 2D saat ini. Selain konser, beragam aktivitas lain seperti menari atau berbagai jenis olahraga juga akan dihadirkan secara real-time, serempak, tak berbatas ruang fisik dan waktu” ujar Zuckerberg bernada promosi. Pastinya, matematikan bisnis adalah pertimbangan utama selain berbagai algoritme pemrograman yang menyertai serta membidani kelahiran Meta yang digadang menjadi jagad baru dunia virtual realis nan membius banyak pengguna khususnya Gen Z yang bakal menggeser peran generasi milenial serta generasi sebelumnya sebagai prospective loyal customers dalam kurun lima tahun ke depan.
Wah, sungguh menggiurkan bukan? Ada yang sedikit nyinyir berkata bahwa semua ini ujung-ujungnya duit (UUD) dan malih-rupa wujud baru kapitalisme yang bakal memberangus hakikat demokrasi universal dan mendominasi kekayaan seluruh jagad baik dalam rupa kekayaan berwujud maupun tak benda semacam data pribadi, algoritme kebiasaan sehari-hari yang menjadi dasar strategi dan taktik pemasaran, bahkan data genom hingga rantai DNA yang bakal menjadi ‘senjata utama’ dalam memenangi kompetisi ranah kesehatan di masa depan tatkala dunia terancam beragam potensi pandemi yang mungkin lebih ganas nan mematikan tinimbang si Korona kini. Wah, mengerikan juga bukan?
Kita tak boleh mengesampingkan hasrat para taipan dunia yang ingin saling mendahului dan menjadi terdepan entah dalam penjelajahan angkasa luar sebagaimana dijalankan oleh Ellon Musk via Tesla maupun oleh Zuckerberg melalui ekplorasi dunia virtual ini. Siapa bakal menjadi pemenang? Wallahualam, yang jelas jangan sampai kita hanya menjadi penonton dan pasar belaka. Agak melegakan apa yang disampaikan oleh Kepala BKPM Bahlil, bahwa metaverse bukanlah hal yang sungguh baru untuk masyarakat Indonesia karena sebelumnya salah satu perusahaan Indonesia yakni WIR Grup telah berkecimpung dalam ranah ini. Bila kita telusuri, perusahaan ini kiprahnya memang nyata dan beroleh pengakuan dunia yang masuk daftar Metaverse Companies to Watch in 2022 versi majalah bisnis internasional Forbes beberapa hari lalu. WIR yang merupakan singkatan dari We Indonesians Rock, Rise and Rule, telah berdiri lebih dari 10 tahun dan memproduksi programming dan inovasi teknologi augmented reality ke lebih dari 20 negara di dunia.
Bila dari sisi entitas bisnis kita tak perlu berkecil hati, bagaimana dengan sisi khalayak awam selaku pengguna dan pasar sasaran nantinya? Kita bersama, tak hanya pemerintah, perlu bersiap sejak dini. Pada titik ini, tepatlah kiranya apa yang disampaikan Roger McNamee sebagai salah seorang pendiri dan investor awal Facebook, bahwa gempita masifnya jangkauan metaverse seyogyanya ‘dikelola’ agar impak negatifnya tereliminasi sejak dini serta menggandakan kemanfaatannya bagi umat manusia.
Lepas dari kontroversi beserta manfaat maupun mudaratnya, keberadaan metaverse kelak bila sungguh terjadi sangatlah membutuhkan ledih dari sekedar literasi digital masyarakat Indonesia. Tepatnya, kita mesti berani (baca: mau dan mau) menanggalkan mentalitas hanya puas selaku pengguna yang adiktif membuata-tuli, sibuk larut dalam alam maya artifisial yang diciptakan hingga lupa atau bahkan abai akan realitas sesungguhnya yang kita hadapi baik sebagai individu maupun warga bangsa. Kini, ‘bebasnya’ dunia digital dalam beragam kanalnya telah begitu gaduh dan mengguncang sendi-sendi modal sosial bangsa tatkala ditunggangi muatan-muatan politik identitas ataupun komersialisasi komodifikasi konten tak mendidik, apalagi ke depan bila semesta virtual tersebut sungguh hadir di tengah masyarakat kita tanpa filter cerdas nan memadai. Kiranya hal ini patut menjadi keprihatinan kita bersama sebagai bangsa bhinneka tak hanya terbuai kepentingan sesaat namun tersesat dalam kubangan hiruk-pikuk para taipan dunia yang bahkan mengangkangi sekat-sekat negara-bangsa.
*)Teguh Santoso, dosen LB pada Fakultas Ekonomika dan Bisnis, UNIVERSITAS SURABAYA, Management System Trainer and Consultant.
Editor: Freddy Mutiara

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi