Menu

Mode Gelap

kempalanalisis · 2 Nov 2021 10:27 WIB ·

Sumenep Kabupaten Begitu Miskin


					Pulau Pengerungan Besar, Kecamatan Sapeken, Sumenep salah satu sumber migas terbesar nasional di Blok Kangean yang dikelola perusahaan Migas Kangean Energy Indonesia. (Foto: Dok. PT Energi Mega Persada) Perbesar

Pulau Pengerungan Besar, Kecamatan Sapeken, Sumenep salah satu sumber migas terbesar nasional di Blok Kangean yang dikelola perusahaan Migas Kangean Energy Indonesia. (Foto: Dok. PT Energi Mega Persada)

Malik Efendi

Oleh: Malik Efendi

KEMPALAN-Sebagai putra Sumenep. Saya malu bercampur marah. Mendengar tanah kelahiran menjadi salah satu daerah dengan kategori miskin ekstrem. Tentu bukan hanya Kabupaten Sumenep. Ada empat kabupaten lain di Jawa Timur yang menjadi pilot project percepatan pengentasan kemiskinan ekstrem yang sedang digagas Wapres Makruf Amin.

Semula saya berpikir Kabupaten Sumenep tak tergolong daerah miskin yang begitu ekstrem. Karena di Sumenep banyak potensi alam yang bisa dikelola. Dan tingkat inflasi yang tinggi sebagai indikasi tingkat konsumsi warganya. Apalagi, potensi minyak gas (Migas) yang terkandung di Bumi Sumenep dikelola oleh 7 Kontraktor Migas. Sehingga Sumenep menjadi salah satu kabupaten penghasil Migas yang cukup memberikan pendapatan kepada negara.

Namun, tiba-tiba saya mendengar Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak seluruh elemen warga Sumenep agar ikut bergotong royong membantu pemerintah menangani kemiskinan ekstrem di Sumenep. Pemerintah daerah dan warganya diminta fokus bergotong royong dalam pengentasan kemiskinan ekstrem.

Saya memahami kemiskinan ekstrem itu, sebuah kondisi daerah yang tingkat kemiskinannya begitu parah. Kesejahteraan masyarakatnya berada di bawah garis kemiskinan.

Saya mencari data garis kemiskinan nasional per September 2020 sebesar Rp 458.947 per kapita per bulan. Sementara, pendapatan per kapita per bulan warga Sumenep sebesar Rp 382.491.

Jumlah angka kemiskinan di Sumenep tiap tahun naik. Seperti pada tahun 2018, jumlah orang miskin di Sumenep mencapai 218.160 atau 21,18%. Pada tahun 2019/2020. Jumlah orang miskin di Sumenep mencapai 220.230 jiwa atau 22%.

Gambaran ini menandakan Pemerintah Kabupaten Sumenep gagal dalam mengelola potensi alam yang begitu melimpah di Kabupaten Sumenep.

Selama ini pengelola Pemkab Sumenep tidak pernah fokus mengatasi kemiskinan warganya. RPJMD sebagai buku induk kebijakan daerah selama lima tahun tidak menempatkan kemiskinan sebagai pusat perhatian program.

Sehingga yang tampak pada APBD Sumenep glambyar. Setiap tahun tidak jelas arah pengentasan kemiskinan. Kemiskinan hanya dijadikan isu seksi jelang moment politik. Kemiskinan menjadi komuditas politik. Seperti saat menjelang pilkada yang bagi-bagi duit dan sembako.

Tidak ada upaya cerdas dari Pemerintah Kabupaten Sumenep yang terencana dalam pengentasan kemiskinan. Seperti, bagaimana memanfaatkan sumber Migas sebagai pengungkit ekonomi warganya. Bagaimana nasib PI 10% yang terbengkalai, kenapa base camp Migas tidak ada di wilayah kerjanya. Bagaimana, CSR Migas kok tak jelas, larinya kemana.

Kenapa Pemkab Sumenep tak transparan kepada warganya dengan cara mengundang segenap elemen masyarakat untuk berbicara tentang potensi Migas yang ada di Sumenep.

Misal, hasil dari PI Migas 10 % mau dibuat apa yang bisa mensejahterakan rakyat Sumenep. CSR dari kontraktor Migas mau dibuat apa untuk mensejahterakan masyarakat Sumenep.

Faktanya tertutup. Kalau dibuka akses informasi soal Migas hanya satu arah. Tak ada keterbukaan pendapatan untuk APBD. Sehingga alokasi di APBD Sumenep menjadi kabur. Tak ada keadilan anggaran.

Tiba-tiba Gubernur Khofifah mengajak seluruh elemen warga Sumenep agar ikut bergotong royong mengatasi kemiskinan ekstrem. Pemerintah tak transparan kepada masyarakat yang lagi susah kok disuruh gotong royong oleh Gubernur.

Apa bentuk gotong royong itu? Ini ajakan yang tak konkret. Lempar batu sembunyi tangan.

*Malik Effendi dari kompolan paggunestoh di Sumenep.

Artikel ini telah dibaca 631 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Maksud Baik Risma

4 Desember 2021 - 13:19 WIB

Dudung Cocoke Ulama Opo Jenderal Medsos

4 Desember 2021 - 05:28 WIB

Mari Pangur Untu dan Kursus Dadi Matador

3 Desember 2021 - 06:16 WIB

Penyidik yang Tak Pupus

1 Desember 2021 - 13:48 WIB

Kepepet, Erick Thohir Mbanser + Nyokot Jokowi

1 Desember 2021 - 06:19 WIB

Banser Itu Elit

29 November 2021 - 15:06 WIB

Trending di kempalanalisis