Menurut Marijan, tampaknya Puan merupakan faktor tetap PDIP. Akan datang Andika atau BG yang capres maka Puan calon wakil presidennya. Atau sebaliknya Puan Capres dan cawapresnya Andika atau BG, tulis Marijan kepada Optika.id, Sabtu (30/10/2021)
Jika PDIP ambil skema itu maka Ganjar yang bagus elektabilitasnya itu bisa ditampung P Golkar. Golkar tinggal ambil PD atau PKB atau partai lain. Tampaknya Jokowi (Joko Widodo) berada di balik Ganjar, urai Marijan. Menurut Marijan, konon skema Jokowi dengan parpol di luar PDIP sudah berembus lama sekali.
Tiga atau Dua Capres Bergantung PDIP
“Poinnya di Puan dan PDIP. Jika dua faktor itu konsisten maka bakal terjadi 3 pasangan. Tapi jika Ganjar diambil PDIP dan Puan bukan capres atau cawapres maka kekuasaan bisa ‘memaksa’ berbagai parpol untuk merapat ke capres PDIP. Bakal terjadi lagi 2 pasangan seperti 2014 dan 2019, malahan bisa saja hanya 1 pasangan” ulas Marijan.
Ganjar dengan elektabilitas tinggi tidak ada jaminan diusung PDIP, tetapi akan diambil parpol lain. Apalagi jika Jokowi di belakang Ganjar. Begitu pula elektabilitas Anies bisa mengalami persoalan parpol yang mengusungnya. Potensial yang bakal mengusung Anies adalah parpol papan tengah: PKS, Nasdem, PD, dan atau PAN.
Jika skema Puan dan PDIP tidak berubah maka bisa riil nama Ganjar, Anies, dan capres alternatif antara Prabowo, Andika, dan atau BG. Berarti hasil survei beberapa Lembaga mendekati formulasi pencapresan yaitu Ganjar dan Anies.
Menurut Ali kuatnya Ganjar, Anies, Sandiaga Uno, dan Ridwan Kamil karena elektabilitas saat ini. Betapa pun kuatnya peran oligarki parpol dan kekuasaan, saat ini elektabilitas kandidat tidak bisa diabaikan, urai Ali.
“Setelah beberapa kali pilpres, pilkada, dan pileg tampaknya parpol semakin memperhitungkan faktor elektabilitas kandidat. Elektabilitas kandidat menjadi pertimbangan penting,” kata Ali lebih lanjut.
“Nama Ganjar dan Anies selalu menjadi sorotan parpol untuk masuk pilpres 2024. Sementara nama Prabowo ada kecenderungan stagnan dan bahkan turun elektabilitasnya,” analisis Ali setelah membaca hasil SMRC.
Menurut Ali hasil survei SMRC yang mendapatkan data kecenderungan elektabilitas Prabowo menurun sangat masuk akal.
Sebagaimana hasil survei capres yang dirilis SMRC, kecenderungan elektabilitas Prabowo menurun tampak dalam data berikut: dari Maret 2020 ke September 2021, dukungan kepada
Prabowo cenderung melemah dari 19,5% menjadi 18,1%.
Sementara itu elektabilitas Ganjar dalam simulasi semi terbuka meningkat dari 6,9% menjadi 15,8%. Begitu pula dukungan kepada Anies sedikit naik dari 10,1% menjadi 11,1%.
“Biasanya setelah ditetapkan sebagai kandidat elektabilitasnya ada yang naik dan stagnan. Bahkan ada yang menurun. Seperti lari maratonlah,” kata Marijan. (*)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi