Bukan hanya tokoh super hero yang dijadikan simbol kampenye LGBT. Tokoh kartun pun sekarang sudah dijadikan simbol perjuangan LGBT. Jaringan televisi anak-anak Nickelodeon secara resmi mengumumkan bahwa karakter animasi Spongebob Squarepants adalah bagian dari komunitas LGBT.
Dalam cuitannya, Nickelodeon mengunggah foto karakter Spongebob bersama karakter animasi LGBT lainnya, Schwoz Schwartz dari serial Henry Danger dan Korra dari Spin-off film Avatar: The Last Airbender dengan tampilan pelangi.
Postingan ini pun mendapat beragam respons dari warganet. Namun, sebagian pengguna twitter tak terlalu terkejut dengan hal tersebut. Pasalnya, pada salah satu episode Spongebob Squarepants pada 2002 lalu, karakter bercelana kotak ini pernah ditampilkan sebagai seorang gay dalam episode berjudul Rock-a-Bye Bivalve.
Dalam episode tersebut, Spongebob bersama sahabatnya, Patrick, memainkan peran layaknya pasangan yang sudah menikah. Tak berhenti sampai disitu, dalam episode tersebut, Spongebob yang berperan sebagai ibu yang bertugas mengasuh seekor anak kerang.
Sejak awal kemunculannya pada 1999 publik sudah menduga bahwa katun ini membawa misi tertentu terutama soal gender. Spongebob digambarkan sebagai mahluk non-gender, tidak punya gender tertentu. Tetapi, belakangan, Stephen Hillenburg, pencipta Spongebob, mengakui secara terbuka bahwa Spongebob adalah gay.
Kampanye LGBT yang masif dan menyasar anak-anak kecil ini menimbulkan keprihatinan di Amerika Serikat. Film animasi, tokoh super hero, dan tokoh kartun yang sebelumnya dianggap netral, sekarang sudah dicemari dengan kampanye untuk memengaruhi preferensi seksual.
Dalam laporan utama di Dailymail online edisi Amerika (26/10) disebutkan bahwa sekarang ini sangat banyak bermunculan buku anak-anak dengan tema LGBT. Buku-buku itu beredar serentak di jaringan toko-toko buku besar di seluruh Amerika.
Buku anak-anak yang biasanya bertema kisah-kisah lucu dan inspiratif sekarang berubah menjadi buku dengan tema-tema seksual. Di antara buku anak-anak yang dipajang di rak jaringan toko buku Barnes and Noble terdapat judul ‘’Mommy, Mama, and Me’’ yang menggambarkan balita yang sedang diasuh oleh pasangan lesbian yang dipanggil ‘’mama’’ dan ‘’mommy’’.
Pada rak yang sama terpajang buku komik berjudul ‘’Daddy, Papa, and Me’’, yang menggambarkan seorang balita yang diasuh oleh sepasang laki-laki gay. Cerita dalam buku itu terang-terangan menggambarkan hubungan perkawinan sejenis antara sesama wanita atau sesame pria. Pasangan sejenis itu digambarkan sebagai pasangan yang normal sebagaimana pasangan beda jenis yang selama ini lazim.
Puluhan buku dengan tema LGBT terpampang di rak buku. Sebuah buku berjudul ‘’I Like Myself’’ menggambarkan bagaiana seorang anak kecil sudah dididik untuk menyukai dirinya sendiri dan tidak membedakan antara gender laki dan perempuan. Perbedaan biologis yang memisahkan laki dan perempuan dihilangkan dalam cerita komik itu.
Buku lainnya berjudul ‘’Feminist Baby’’ dan ‘’Trailblazer: A Girl Power Primer’’ yang mengajarkan kesetaraan gender dan pengakuan terhadap kesamaan laki-laki dan perempuan. Buku-buku ini juga mengajarkan feminisme radikal kepada anak-anak.
Dalam beberapa pekan terakhir ini pasokan buku-buku bertema LGBT meningkat tajam seiring dengan naikknya minat beli terhadap buku-buku itu. Sebuah buku yang dicetak 50.000 eksemplar pada edisi awal sudah mengalami cetak ulang 100 ribu eksemplar hanya dalam beberapa minggu.
Kampanye LGBT semakin terbuka dan gencar di seluruh dunia. Serbuan itu cepat atau lambat akan mengarah ke Indonesia. Sampai sekarang belum terlihat ada reaksi terhadap gelombang kampanye masif itu. Biasanya, Indonesia baru kebakaran jenggot kalau sudah terlambat, dan kasusnya sudah masif dimana-mana. (*)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi