ANKARA-KEMPALAN: Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan telah memutuskan untuk mengusir 10 duta besar dari negara Barat. Tujuh Duta Besar merupakan negara anggota NATO dan melansir dari Aljazeera, tindakan Turki tersebut menandakan hubungan yang paling parah dengan negara Barat semenjak ia berkuasa selama 19 tahun lamanya.
“Saya telah memerintahkan Menteri Luar Negeri kami untuk segera mengumumkan 10 Duta Besar tersebut dengan status Persona non Grata (Orang yang tidak dihormati) secepatnya” ucap Erdogan pada Sabtu (23/10).
10 Negara yang dimaksudkan oleh Turki adalah AS, Jerman, Kanada, Denmark, Finlandia, Prancis, Belanda, Selandia Baru, Norwegia dan Swedia. 10 negara tersebut mencoba untuk membebaskan salah satu aktivis kritis yang menentang Erdogan yaitu Osman Kavala.
Osman Kavala telah berada di dalam penjara semenjak tahun 2017 dengan tuduhan pasal memberikan bantuan dana untuk protes nasional pada tahun 2013 dan tuduhan pasal lainnya yaitu terlibat dalam kudeta tahun 2016. Namun, sejauh ini, ia menolak terhadap adanya tuduhan tersebut.
Osman Kavala telah menjadi simbol pergerakan oposisi Erdogan terlebih lagi setelah ia gagal dalam keterlibatannya di kudeta tahun 2016. Melansir dari AFP, Kavala merasakan bahwa dirinya telah menjadi alat bagi Erdogan untuk menentukan kebijakan luar negerinya yang sedikit condong kontra dan oposisi terhadap negara Barat selama beberapa tahun belakangan.
Ia juga selalu menolak untuk mendatangi pengadilan dengan alasan bahwa semua alasan yang ada akan selalu ditolak oleh pengadilan.
Dewan Eropa juga telah memberikan peringatan terakhir kepada Turki untuk segera melakukan pengadilan yang adil bagi Kavala. Jika Turki gagal untuk melakukannya, pihak Dewan Eropa akan memberikan tindakan disiplin serta protes kepada Turki.
Ketua Parlemen Eropa, David Sassoli memberikan tanggapannya dalam cuitannya di Twitter dengan mengatakan bahwa tindakan pengusiran 10 Duta Besar tersebut merupakan salah satu tanda tindakan otoriter.
“Pengusiran 10 Duta Besar oleh Turki merupakan salah satu tanda otoriternya pemerintah Turki. Kami tidak akan terintimidasi. Kami meminta Turki untuk segera membebaskan Osman Kavala” ucap David Sassoli dalam cuitannya.
(AFP/Aljazeera, Muhamad Nurilham)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi