Pigai tidak terang-terangan mengganjal dan menjegal Ganjar. Tapi, mengasosiasikan Jokowi dan Ganjar dengan ketidakadilan dan diskriminasi terhadap masyarakat Papua, bisa dianggap sebagai upaya mendegradasikan Jokowi-Ganjar.
Penyebutan atribusi ‘’orang Jawa Tengah’’ terhadap Jokowi dan Ganjar menjadi labelling atau stereotyping yang bisa menyinggung perasaan. Apalagi kemudian di kalimat berikutnya disebutkan ‘’Mereka merampok kekayaan kita, mereka bunuh rakyat Papua, injak-injak harga diri bangsa Papua’’. Penyebutan ‘’mereka’’ bisa saja diasosiasikan kepada Jokowi dan Ganjar.
Pigai menegaskan dia tidak bertindak rasis terhadap orang Jawa Tengah maupun Jokowi dan Ganjar. Sebagai pemimpin Papua, Pigai ingin membela warga Papua dari ketidakadilan. Selama puluhan tahun warga Papua menjadi korban (victim) ketidakadilan.
Pembelaan Pigai terhadap ketidakadilan yang dialami warganya malah dipolitisasi dan dituding sebagai sikap rasis. Pigai sedang mengalami ‘’victimization of victim’’, korban yang dikorbankan. Selama ini dia sudah menadi korban, tapi malah akan dikorbankan lagi dengan tuduhan rasisme.
Papua adalah api dalam sekam. Papua adalah padang rumput ilalang kering yang setiap saat bisa terbakar. Pemerintah menggelontorkan triliunan rupiah dalam perhelatan PON untuk menunjukkan bahwa tidak ada diskriminasi atau tindakan rasisme terhadap warga Papua. Ritual public relation dan pencitraan semacam ini tidak cukup untuk bisa menyelesaikan masalah yang sudah terpendam puluhan tahun.
Salah handle terhadap kasus cuitan Pigai akan memperdalam rasa ketidakadilan, dan bisa menjadi api yang membakar padang ilalang. (*)
Editor: Freddy Mutiara

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi