SAADIYAH IBU ALI, PUTERI BEKAS KONJEN TURKI DI BATAVIA
Saadiyah adalah puteri Syed Aziz Effendi Al-Musawi, konsul jenderal kehormatan Turki Utsmani di Batavia yang sudah menjalankan tugasnya sejak tahun 1882. Syed Aziz sendiri yang berasal dari Baghdad, merupakan konsul pertama Turki yang berhasil membuka perwakilannya di Hindia Belanda, setelah sebelumnya sempat gagal karena pihak Belanda menganggap keberadaan konsulat Utsmani tersebut dianggap akan menjadi simbol dari persatuan umat Islam. (Sumber ; Jurnal Ferial Ramadhan Supratman ; Rafet Bey: The Last Ottoman Consul in Batavia During The First World War 1911-1924, diterbitkan oleh Studia Islamika).
Menurut Alwi Shahab dalam bukunya: Saudagar Baghdad dari Betawi yang diterbitkan oleh Republika; Syed Azis Al Musawi menikah dengan Siti Rohani, putri pejuang kemerdekaan Pangeran Sentot Alibasyah yang menjadi anak angkat Sultan Bengkulu terakhir. Diantara puterinya yang bernama Syarifah Mariam, kemudian menikah dengan Sayyid Abdullah bin Alwie Alatas.
Sayyid Abdullah bin Alwi Alatas yang lahir di Pekojan, Jakarta Barat ini, oleh orang Betawi dijuluki “Tuan Tanah Baghdad“, karena termasuk salah satu orang terkaya dan pemilik banyak lahan luas di Batavia. Bekas rumahnya adalah yang sekarang menjadi museum tekstil di Tanah Abang. Rumah itu sebelumnya menjadi kediaman resmi Konsul Turki di Batavia, Syed Aziz Effendi Al Musawi mertuanya.
Saat dia menempati rumah itu, semangat gerakan Pan Islam tengah berkobar di Jakarta. Bahkan ia sendiri merupakan salah satu tokoh dari gerakan yang sangat ditentang Belanda itu dan kawan dari Shaikh Mohamad Abduh, murid Sayid Jamaluddin Al-Afghani, pencetus Pan Islam.
Sayyid Abdullah bin Alwi Alatas juga pernah menerbitkan majalah Borobudur berbahasa Arab dan menyokong penerbitan harian Utusan Hindia, surat kabar berbahasa Melayu yang redakturnya dipimpin oleh HOS Cokroaminoto.
Sayyid Abdullah Bin Alwie Alatas yang wafat pada tahun 1929, oleh Syaikh Ahmad Surkati selalu didoakan seraya mengangkat kedua belah tangannya tinggi-tinggi, kala namanya acap kali disebut, karena sokongannya yang besar terhadap Al-Irsyad. Sayyid Abdullah Bin Alwie Alatas tercatat telah memberikan donasi besar kepada Al-Irsyad saat organisasi ini pertama kalinya didirikan, sebanyak 60 ribu gulden, atau yang pada waktu itu menurut H. Hussein Badjerei, bisa dibelikan sekitar sepuluh ribu ton beras di pasar Boplo.
Boplo berasal dari bahasa Belanda, Pasar di Bouwploeg kala itu dikenal sebagai tempat penjualan alat-alat bajak dan pengolah pertanian. Bila diintip dari sejarahnya, Bouwploeg sangat erat kaitannya dengan cikal bakal kawasan Menteng.
De Bouwploeg adalah sebuah perusahaan yang memberikan jasa perumahan mewah di kawasan Menteng dan Gondangdia. Di gedung yang kini menjadi Masjid Cut Mutia, Jakarta Pusat, Moojen selaku Direktur Utama NV de Bouwploeg membangun Menteng dengan menjadikannya sebagai kota taman pertama yang ingin meniru kawasan Minerva (laan) di Amsterdam. (*)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi