Rabu, 29 April 2026, pukul : 22:00 WIB
Surabaya
--°C

Alatas Land: Orang Betawi di Antara Para Diplomat Indonesia yang Mendunia

Abdullah Batarfie

Ketua Pusat Dokumentasi dan Kajian Al-Irsyad Bogor

KEMPALAN: Cikini termasuk salah satu kawasan yang cukup terkenal di Jakarta sejak masa Hindia Belanda, semenjak kota itu masih bernama Batavia. Namanya bahkan dibuat menjadi sebuah lirik pada lagu khas Betawi Cikini di Gondangdia, badan begini lantaran dia.

Meski ada banyak nama yang sudah berubah, termasuk Gondangdia, menurut Abah Alwi “masih disyukuri kedua nama itu hingga kini tetap mentereng, diabadikan menjadi dua nama stasiun kereta api yang saling bersebelahan, Cikini dan Gondangdia” Alwi Shahab; Quenn of the East, penerbit Republika 2002

Masih di kawasan Cikini, terdapat seorang ulama masyhur Betawi yang terkenal dengan sebutan Habib Cikini. Nama aslinya adalah Sayyid Abdurrahman Bin Abdullah Al Habsyi, ayah dari Sayyid Ali bin Abdurrahman Al Habsyi, atau yang disebut orang dengan panggilan Habib Ali Kwitang. Salah seorang puteranya bernama Sayyid Abdurrahman mengawini wanita keturunan belanda bernama Maria Van Engels, oleh cucu-cucunya, termasuk Alwi Shahab, menyebutnya Jidah Enon, dan wan enon oleh warga setempat.

Selain Rumah Sakit Cikini, bangunan bersejarah lainnya yang berada di kawasan Cikini adalah Masjid Al-Makmur, yang dibangun di atas tanah wakaf Raden Saleh pada pertengahan abad ke-18. Syarifah Rogayah binti Husein bin Yahya adik dari maestro lukis Raden Saleh, merupakan istri pertama Habib Cikini.

Cikini di masa lalu dan pada masa sesudah kemerdekaan memang banyak menyimpan sejuta kisah dan memiliki sejarah panjang, mulai keberadaan Kebun Binatang Cikini yang kemudian berubah menjadi Taman Ismail Marzuki, hingga bekas kediaman pelukis ternama Indonesia Raden Saleh, yang sekarang menjadi RS Cikini di Jalan Raden Saleh Raya No.40, sejak rumah itu dijual “murah” oleh ahli waris Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Attas kepada Koningen Emma Stichting. Yayasan milik Belanda yang namanya didedikasikan kepada Adelheid Emma Wilhelmina Theresia, ibunda Ratu Wilhelmina, penguasa monarki kerajaan Belanda (1890-1948).

Raden Saleh Sjarif Boestaman, pelukis Indonesia beretnis Arab-Jawa yang menjadi pionir seni modern Indonesia, adalah pemilik asal rumah itu, yang semasa beliau masih hidup telah menjualnya kepada Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Attas, seorang saudagar Arab-Betawi yang memiliki banyak lahan luas di Batavia. Maka dari itu orang-orang dulu menyebut wilayah Jl Raden Saleh dengan sebutan Alatas Land.

Masjid Al-Makmur, wakaf dari Raden Saleh di Cikini. Foto diambil tahun 1947.

Ali Alatas merupakan satu diantara tokoh nasional yang lahir di Cikini pada 4 November 1932, dan wafat pada 11 Desember 2008 di Singapura.

Karena memiliki banyak jasa kepada negara, Ali Alatas dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata. Prosesi upacara pemakamannya dipimpin langsung oleh presiden RI ke 6, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

SBY dalam sambutan pemakamannya menyatakan “Ali Alatas sepanjang hidupnya telah mengabdikan diri untuk bangsa dan negara di dunia diplomasi dan hubungan internasional. Almarhum dikenal sebagai diplomat andal serta negosiator cerdas, tangguh, dan piawai dalam mewakili negara kita di berbagai perundingan, didasari kecintaannya kepada bangsa dan tanah air”

Seluruh anggota Kabinet Indonesia Bersatu hadir di pemakaman Ali Alatas, demikian pula para duta besar negara sahabat.

Tun Haji Abdullah bin Haji Ahmad Badawi, Perdana Menteri Malaysia menyempatkan diri bertakziah ke rumah duka, menyampaikan ucapan bela sungkawa atas nama negara dan bangsa serumpun di Asia Tenggara.

Banyak pihak mengatakan, bahwa Ali Alatas “lebih besar” dari Asia Tenggara, sementara kiprahnya di kancah internasional menjadi daftar panjang yang mungkin akan sulit ditandingi oleh siapapun.

Ali Alatas diakui memiliki prestasi gemilang, saat tercatat sebagai diplomat yang berhasil mewujudkan perdamaian di Kamboja. Bersama Hun Sen, Ali Alatas berhasil mengakhiri perang melawan Khmer Merah yang telah menewaskan lebih dari 2.2 juta jiwa warga sipil dalam peperangan tersebut.

Lukisan rumah Raden Saleh, di Cikini yg sekarang menjadi RS Cikini, Jakarta.

Sebagai figur yang karismatik, dan diakui karena jasa berikut pengalamannya di bidang diplomasi, tokoh yang disegani di kawasan Asia Pasifik ini, namanya pun sering digadang menuju kursi jabatan Sekjen PBB.

Dr. (HC) Ali Alatas, S.H adalah salah seorang diplomat Indonesia yang pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (1988-1998) pada era orde baru, masa kepemimpinan Presiden Jenderal Besar TNI H. M. Soeharto. Jabatan lainnya ialah Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Myanmar, Utusan Khusus Presiden RI untuk masalah Timur Tengah dan Ketua Dewan Pertimbangan Kepresidenan.

Ali Alatas, dapat dikatakan menjadi seorang Menteri Luar Negeri RI pertama yang memulai jenjang kariernya dari bawah. Ia memiliki ciri-ciri alamiah yang membuat pribadinya amat cocok berkembang menjadi seorang diplomat ulung.

Next: Ali Alatas Anak…

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.